0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Guru dan Kasek Ikut Pelatihan

Usia SMP Tepat Ditanamkan Pembangunan Karakter Bangsa

Pelatihan Pembangunan Karakter Bangsa bagi Guru dan Kepala SMP di Hotel Solo Paragon, 31 Oktober- 4 November 2012 (Dok.Timlo.net/daryono)

Solo – Pembangunan karakter bangsa perlu dibangun sejak remaja. Usia anak SMP dinilai tepat untuk ditanamkannya pembangunan karakter bangsa. Hal inilah yang melatari belakangi Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dengan memberikan Pelatihan Pembangunan Karakter Bangsa bagi Guru dan Kepala Sekolah, 31 Oktober-4 November di Hotel Solo Paragon.

“Kenapa kita ambil guru dan kepala sekolah SMP? Karena anak-anak SMP itu masih labil secara emosional. Selain itu secara fisiknya pun juga masih mengalami perkembangan. Perkembangan otaknya juga belum 100 persen. Lihat saja saat mereka dandan, pasti bolak-balik ganti baju,” ujar Direktur  Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya,  Prof. Etty Indriati PhD saat memberi sambutannya, Rabu (31/10) di Hotel Solo Paragon.

Dikatakan Etty, program Pelatihan Pembangunan Karakter Bangsa itu merupakan program baru karena Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya juga baru saja dibentuk. “Program ini mulai per April 2012 semenjak direktorat ini terbentuk,” ujarnya.

Lebih jauh, Etty mengatakan  dalam pembangunan karakter bangsa ini, ke depan tidak hanya guru dan kepala sekolah SMP saja yang dilibatkan tetapi akan diperlebar dengan melibatkan keluarga dan komuunitas. “Kalau secara formal lewat sekolah, pembangunan karakter sudah ditangani direktorat pendidikan. Nah yang informal inilah yang digarap oleh direktorat kebudayaan,” ujarnya.

Rencananya pelatihan pembangunan karakter ini akan dilakukan di seluruh Indonesia. Hanya saja, untuk tahap pertama dilakukan di 10 propinsi yaitu Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Banten. Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Maluku. “Yang Jawa Tengah kita lakukan di Solo ini. Untuk setiap propinsi diikuti 100 peserta guru dan kepala sekolah SMP,” urainya.

Disinggung soal target, Etty mengatakan bahwa targetannya adalah para guru dan kepala sekolah mempu menanamkan nilai kepada muridnya. “Jadi tidak hanya mata pelajaran saja tetapi juga keseimbangan otak kanan dan kiri,” tukasnya.

 

 



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge