0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Beras Delanggu Mulai Terdesak Beras Impor

Petani di Kecamatan Delanggu, Klaten mulai memanen tanaman padi mereka (Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto)

Klaten – Petani di Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten mengeluhkan anjloknya harga gabah hasil panen pada musim tanam (MT) III saat ini. Sekali panen, rata-rata penurunan sekitar Rp1 juta setiap petaknya.

“Merosotnya harga padi dari petani ini dirasakan sejak dua pekan terakhir,” ujar Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Delanggu, Atok Susanto saat ditemui wartawan, Senin (29/10).

Atok mengatakan, penurunan harga sekitar Rp1 jutaan setiap petaknya. Misalnya, hasil panen padi di lahan seluas 1.300 meterpersegi hanya terjual Rp3 juta. Padahal biasanya bisa laku Rp4 juta.

“Kondisi ini tentu membuat petani kelimpungan. Sebab harga jual hasil panen tak sebanding dengan biaya operasional mulai masa tanam, perawatan hingga panen,” kata Atok.

Atok menjelaskan, akibat dari anjloknya harga panen padi itu otomatis membuat merosotnya harga beras lokal di pasaran. Saat ini untuk beras jenis IR64 hanya diharga Rp7.500 perkilogram. Padahal sebelumnya mencapai Rp 8.500 perkilogram.

“Akibat dari turunnya harga beras itu tentunya berpengaruh terhadap kondisi petani yang semakin lesu,” ujarnya.

Menurut Atok, merebaknya beras impor di pasaran menjadi faktor dari merosotnya harga beras lokal saat ini. Selain murah, penampilan beras impor juga lebih menarik. Kondisi itu membuat konsumen lebih memilih beras impor dari pada lokal.

“Beras lokal, khususnya Delanggu, sudah terdesak dengan beras impor yang harganya lebih murah. Sehingga membuat harga beras lokal ikut merosot,” kata Atok yang juga Kepala Desa Tlobong, Kecamatan Delanggu.

Salah satu petani, Mulyono (50), warga Dukuh Kalitengah, Desa Tlobong menuturkan, hasil panen padi pada MT III saat ini sangat mengecewakan. Tanaman padi di lahan seluas 1.300 meterpersegi miliknya hanya laku Rp800.000. Padahal jika kondisi normal mampu mencapai Rp3,5 jutaan.

“Tentunya hasil panen ini membuat saya tombok. Sebab untuk biaya tanam, perawatan hingga panen hampir Rp1 jutaa setiap petaknya,” ujarnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge