0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Merevitalisasi Lokananta

Lokananta (Dok.Timlo.net/ Irawan Mintorogo)

Solo — Perusahaan Rekaman Lokananta dalam perkembangan sejarah menjadi saksi dalam pengarsipan berkas-berkas nasional yang berjenis audio. Namun, hingga saat ini kondisi perusahaan tersebut sangat menyedihkan meskipun di bawah naungan Perusahaan umum (Perum) Percetakan Negara.

Perusahaan rekaman pertama milik pemerintah RI yang berdiri pada tahun 1956 tersebut, mempunyai arti sangat penting bagi para musisi indonesia. Lokananta dianggap sebagai ‘Ground Zero’ atau titik awal dari perkembangan musik indonesia saat ini. Banyak musisi-musisi legendaris pernah merekam karya masterpiece mereka di sana, seperti Gesang, Titik Puspa, Waldjinah dan masih banyak lagi.

Namun seiring berlalunya waktu, tak ada lagi cerita-cerita tentang kejayaan Lokananta. Sebagai sebuah tempat bersejarah bagi musik Indonesia, keadaan Lokananta saat ini sangat menyedihkan hampir 30 persen koleksi berharga yang tersimpan disana tidak terawat dan rusak. Bahkan beberapa koleksi dijual secara terpaksa kepada kolektor untuk biaya operasional.

Koordinator Perusahaan Rekaman Lokananta, N Andi Kusuma mengatakan hal pertama yang dilakukan dirinya adalah mengubah image perusahaan rekaman tersebut agar mengenal Lokananta tidaklah hanya sebagai perusahaan rekaman lagu-lagu daerah maupun tradisional saja, melainkan juga mampu sebagai studio rekaman yang menggarap musik-musik masa kini. “Kami saat ini tidak hanya menggarap lagu-lagu tradisional semata namun juga ikut bersaing dalam kancah rekaman musik-musik masa kini,” ungkapnya ditemui seusai acara.

Lebih lanjut dijelaskan Andi, terdapat beberapa faktor yang menjadi penghambat dalam perkembangan lokananta saat ini diantaranya yaitu keterbatasan dana, aset dan peralatan yang sudah uzur, keterbatasan SDM dan kendala birokrasi. Disamping itu juga peran serta masyarakat dalam hal memiliki Lokananta juga sangat dibutuhkan. “ada beberapa aspek yang menjadi penghambat dari perkembangan Lokananta sendiri,” ungkapnya.

Sebenarnya, lanjut Andi, hal tersebut dapat dihadapi dengan peran nyata pemerintah untuk merevitaiisasi perusahaan tersebut, diantaranya dengan mengubah status BUMN di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreati bukan di bawah Kementerian Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI). Disamping itu juga menghilangkan hambatan birokrasi yang ada agar investasi dapat cepat mengalir. “Usaha nyata pemerintah untuk merevitalisasi Lokananta adalah dengan cara tersebut,” terangnya.



Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge