0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Parade Budaya Klaten Diwarnai Pengusiran Wartawan

Salah satu penampilan peserta Parade Seni Budaya yang digelar Pemkab Klaten (Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto)

Klaten – Parade Seni Budaya yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten di Jalan Pemuda, Minggu (28/10), diwarnai insiden kurang simpatik. Sejumlah petugas pengaman yang disiapkan justru mengusir sejumlah warga yang mendekat dan wartawan yang meliput.

Pantauan di lokasi, sejak siang hari ratusan warga berbondong-bondong untuk melihat langsung perhelatan Parade Seni Budaya yang digelar Pemkab Klaten di sepanjang Jalan Pemuda tersebut.

Bahkan orang dewasa dan anak-anak juga tampak berdesak-desakan disekitar panggung kehormatan di depan Rumah Dinas Bupati Klaten. Tentunya hal itu membuat petugas keamanan harus bekerja ekstra demi keamanan.

Hanya saja pengamanan diwarnai insiden kurang simpatik. Beberapa warga terpaksa diusir petugas lantaran terlalu merangsek hingga ke badan jalan. Bahkan sejumlah wartawan yang meliput acara itu juga sempat diusir saat mengambil gambar di depan panggung kehormatan.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Klaten, Sugeng Haryanto, enggan berkomentar banyak. “Maaf saya sedang sibuk,” ujarnya.

Data yang dihimpun, Parade Seni Budaya ini diikuti 31 tim perwakilan dari Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka menampilkan budaya unggulan dari masing-masing daerah.

Parade Seni Budaya dalam rangka Hari Jadi Klaten ke 62 ini dibuka dengan penampilan Tari Gambyong oleh siswa SMPN 2 Klaten. Kirab budaya ini diawali dengan penampilan prajurit Keraton Surakarta dan disusul prajurit Keraton Yogyakarta.

Usai penampilan prajurit keraton, kemudian disusul Kabupaten Magelang yang menampilkan Tari Kubrosiswo “Moncer Siswo” dan Kabupaten Temanggung berupa Tari Kuda Lumping.

Sementara Kabupaten Sukoharjo menampilkan Tari Kebokinul Kebokatul. Sedangkan dari Kabupaten Semarang berupa Tari Kuda Lumping, dan disusul kebupaten/kota lainnya se-Jawa Tengah dan DIY.

Pemborosan

Terpisah, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Klaten, Nurcholis Madjid, menyayangkan kegiatan seni budaya dalam rangka memperingati Hari Jadi Klaten ke 62 yang digelar bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda tersebut.

“Seharusnya tema acara seperti ini tidak hanya untuk Hari Jadi Klaten saja. Meskipun bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ya harusnya temanya tidak jauh dari Sumpah Pemuda. Biar dua-duanya bisa diraih temanya dalam satu acara,” ujarnya.

Nurcholis menilai, gelar Parade Seni Budaya itu bisa dianggap pemborosan. Mengingat perayaan Hari Jadi Klaten yang diperingati setiap 28 Juli sudah berulang kali digelar oleh Pemkab Klaten.

“Bisa iya (pemborosan). Seharusnya acara-acara kirab budaya seperti HUT Klaten itu bisa dibarengkan saat HUT RI. Sehingga anggaran bisa dibuat sehemat mungkin tanpa menghilangkan makna dari acara tersebut,” ujarnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge