0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Refleksi Dua Tahun Erupsi Merapi

Masih Trauma tapi Warga Merapi Enggan Pindah

Warga Lereng Gunung Merapi di Boyolali (Dok.Timlo.net/ Nanin)

Boyolali — Dua tahun pasca erupsi Merapi, masyarakat di lereng gunung tersebut masih mengaku trauma. Mereka was-was dan khawatir bila Merapi kembali meletus. Meski demikian, masyarakat menolak bila diminta pindah dan direlokasi ke tempat yang aman.

Salah satu warga Samiran, Selo, Boyolali, Sugi, yang rumahnya hanya berjarak 4,6 kilometer dari puncak Merapi, mengaku enggan untuk pindah ke lokasi yang aman. Pasalnya, ditempatnya sekarang dimana dia mencari makan. Sugi khawatir bila dilokasi baru dirinya tidak bisa mencari nafkah.

“Ya masih trauma, tapi bagaimana lagi, di sinilah saya dilahirkan dan mencari nafkah,dalam hati masih khawatir juga kalau-kalau terjadi letusan lagi seperti kemarin itu,” papar Sugi ditemui di rumahnya, Jumat (26/10).

Meski penghidupan sudah mulai membaik, namun masyarakat mengaku khawatir bila usahanya tersebut akan hancur karena letusan Merapi. Salah satu warga, Wagiman, mengakui kehidupan perekonomian warga sudah membaik, namun warga masih dihantui kekhawatiran sehingga usaha yang dilakukan tidak maksimal.

“Masih 50:50 untuk ekonomi, kita inginya bisa kembali normal seperti sebelum erupsi,” ungkap Wagiman.

Erupsi Merapi 2010 lalu memang menyisakan duka bagi masyarakat di Lereng Gunung Merapi atau tepatnya di Kecamatan Selo, Boyolali. Dampak dari letusan tersebut, masyarakat yang notebene adalah petani harus kehilangan penghasilan. Karena ladang mereka hancur dan tidak bisa ditanami akibat abu Merapi. Membutuhkan waktu satu tahunan untuk menghidupkan kembali perekonomian warga.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge