0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ketoprak Warnai Peringatan Hari Perdamaian Internasional

Kedepankan Cinta Kasih, Bukan Balas Dendam

Solo – Sebuah repertoar ketoprak garapan, ditampilkan dalam Talk Show dan Pentas Budaya dengan tema Membangun Rekonsiliasi Untuk Mewujudkan Perdamaian di pendapa TBJT Surakarta, Rabu (29/9/). Ketoprak ini lain dari ketoprak yang bisa kita lihat. Cerita yang diangkat dari realita masyarakat yang berkembang saat ini.

Menurut ST. Wiyono selaku sutradara ketoprak tersebut, cerita yang dimainkan dalam ketoprak bukanlah cerita yang datang pada ketoprak umumnya, melainkan berangkat dari situasi sosial yang sekarang ini sudah banyak melahirkan konflik-konflik.

“Situasi ekonomi yang tidak menguntungkan sebagian masyarakat terkadang menjadi pemicu untuk melakukan tindakan represif. Tentu saja berlatarbelakang perubahan nasib dan semangat komunal masyarakat kelas bawah ini berusaha berteriak, bertempur demi sebuah keadilan yang mereka anggap benar,” ujarnya kepada Timlo.net.

Di sisi lain, bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah semakin meningkat. Kasus korupsi yang merajalela, kunker (kunjungan kerja) yang tidak bermanfaat, dan penghambur-hamburan anggaran uang negara, serta semakin meluasnya jurang antara sang miskin dan sang kaya menumbukan sebuah dendam untuk melahirkan dunia baru yang mereka jauh lebih baik.

“Seperti yang terlontar dalam ketoprak tadi. Saat ini sudah tidak ada Ketuhanan yang maha Esa, Tapi Keuangan yang maha Esa. Itu adalah sebuah keprihatinan dimana uang atau materi duduk di atas kepala dan menggantikan segala sesuatunya dengan uang,” imbuhnya.

Sementara itu, Digok Anurogo, yang dalam ketoprak berperan sebagai seorang kyai yang tengah mencari pengikut mengatakan, adanya gerakan-gerakan separatis muncul dari sebuah ketidakadilan. Kekecewaan mereka teramat mendalam hingga melahirkan faham baru. Alhasil segala cara ditempuh untuk melanggengkan faham mereka yang sebenarnya berangkat dari rasa balas dendamnya.

“Ini sungguh sangat memprihatinkan. Cerita ketoprak ini sendiri berangkat dari situasi tersebut, yang tentu saja mempunyai harapan untuk bisa mawas diri tidak mengedepankan dendam. Toleransi, cinta kasih, pengertian harus dikedepankan. Kekerasan bukanlah jalan untuk sebuah perubahan. Semoga di hari Perdamaian Internasional ini semuanya akan terbuka nuraninya dan terketuk hatinya. Sehingga damia bisa terwujud di bangsa ini maupun di seluruh dunia,” paparnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge