0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tubuh Pembasuh Tanah, Tarian Anak-anak Petani

Tari 'Tubuh Pembasuh Tanah' di Pendhapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Rabu (24/10) malam. (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Sebanyak enam penari asal Bandung (Jawa Barat) menarikan tarian kontemporer berjudul ‘Tubuh Pembasuh Tanah’ dalam acara bertajuk “Tidak Sekedar Tari” yang digelar di Pendhapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Solo, Rabu (24/10) malam.

Tarian ini mengisahkan tentang kehidupan di wilayah agraris namun tidak ditemukan penerus untuk mewarisi budaya agraris wilayah tersebut. Keprihatinan mendalam terlihat di kala sebuah adegan mempertontonkan penolakan terhadap tanah liat yang merupakan tanah yang berasal dari sawah. Anak-anak petani tersebut dalam tariannya mengisyaratkan bahwa mereka lebih memilih berkerja selain mengelola tanah pertanian. Padahal anak-anak tersebut bisa sukses berkat orangtuanya yang menjadi seorang petani. Gerakan tari yang lincah dan kompak menjadi kekuatan tarian kontemporer dari tarian tersebut.

Menurut Ayo Sunarya, koreografer tarian tersebut mengatakan bahwa kesedihannya akan tempat tinggalnya di Jawa Barat yang merupakan lumbung padi tidak memiliki penerus dalam mengelola tanah pertanian. Hal tersebut dikarenakan banyak dari anak-anak petani yang memilih untuk merantau dan mencari pekerjaan selain petani yang mereka anggap lebih terhormat.

“Di daerah Jawa Barat khususnya banyak kalangan mudanya enggan meneruskan pekerjaan ayahnya yang merupakan seorang petani, sebab petani dainggap mereka tidak memiliki masa depan,” ungkapnya ditemui seusai pementasan.

Melalui tarian tersebut, pihaknya ingin menyampaikan pesan bahwa di dunia ini tidak ada pekerjaan yang mulia selain seorang petani. Sebab melalui kerja keras merekalah bisa menghidupi semua. Tarian tersebut telah dipentaskan di beberapa kota seperti Bandung, Cianjur, Jakarta dan Solo.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge