0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Wayang Orang Gaya Yogya, Halus Tutur dan Gerakan

Gelar Wayang Orang Limang Gatra yang diadakan di Pendhapa Ageng Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Surakarta. (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Pertunjukan hari kedua Gelar Wayang Orang Limang Gatra yang diadakan di Pendhapa Ageng Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Solo, Selasa (23/10) malam,  menghadirkan dua buah lakon di antaranya Ciptaning Mintaraga dari Sanggar Wayang Orang Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM) Yogyakarta dan Manuksma Kuru Kasetra dari Sanggar Wayang Orang Gendheng Rek Surakarta.

Penampil pertama dari Sanggar Wayang Orang YPBSM menceritakan tentang Begawan Suciptaning Mintaraga atau yang biasa dikenal dengan nama Arjuna yang sedang bertapa di Gunung Indrakila. Dalam pertapaannya tersebut, ia meminta kepada Sang Hyang Widi untuk kemenangan pihak Pandawa dalam perang Bharatayuda nanti.

Di satu sisi, Kayangan yang dipimpin Bathara Guru mendapatkan ancaman dari Prabu Newatakawaca karena pinangannya kepada Dewi Supraba yang merupakan salah satu bidadari di Kayangan tidak terkabulkan. Para dewa di Kahyangan tak ada yang bisa menandingi kekuatan Prabu Newatakawaca. Akhirnya Bathara Guru mengutus Bathara Narada dan Bathara Indra mencari Arjuna yang saat itu sedang dalam pertapaan.

Singkat cerita, akhirnya Prabu Newatakawaca dapat dikalahkan Arjuna atau sebagai Begawan Suciptaning Mintaraga, sebab masih dalam masa pertapaannya. Sebagai ucapan terima kasih Bathara Guru, akhirnya Begawan Suciptaning Mintaraga diangkat sebagai rajanya bidadari di Kayangan Manik Antaya dan bergelar Prabu Galithi.

Supriyanto, sutradara pementasan wayang orang berjudul Ciptaning Mintaraga mengatakan, pertunjkuan tersebut menyiratkan pesan bahwa keangkaramurkaan yang diwakili Prabu Newatakawaca akan dapat dimusnakan dengan kebaikan yang diwakili oleh tokoh Begawan Suciptaning Mintaraga atau Arjuna. Disamping itu juga garapan tari antara yang dipentaskan tersebut sesuai dengan pakem Yogyakarta yang cenderung halus baik dalam tutur maupun gerakan. “Konsep wayang orang gaya Yogyakarta yang ditampilkan tadi mengadopsi budaya Keraton Yogya yang cenderung halus,” ucapnya ditemui seusai pementasan.

Menurutnya, dari penggarapan karawitan serta bentuk tarian yang diangkat dalam pagelaran tersebut juga mengacu pada konsep Yogyakarta, sehingga berbeda dengan konsep wayang orang yang ditampilkan di wilayah Solo. “Konsep yang kami usung sangat berbeda dengan wayang orang yang digarap di wilayah Solo,” pungkasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge