0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

2 Film Dokumenter Diputar di GKS

Bayi Fitri dan Bukit Bernyawa Saksi Erupsi Merapi

Film dokumenter seputar erupsi Gunung Merapi diputar di GKS (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Penderitaan warga kaki Gunung Merapi pasca terjadinya erupsi dan bencana alam yang melanda pada tahun 2010 menjadi tema dalam pemutaran film yang diadakan di Gedung Kesenian Surakarta (GKS), Senin (22/10) malam.

Dua buah film, “Bayi Fitri”  karya sutradara K Ardi dan “Bukit Bernyawa”  karya sutradara Steve Pillar ditayangkan untuk memberikan kesaksian bahwa bencana selalu meninggalkan luka, namun di sisi lain bencana tersebut dianggap hal yang lumrah, sebab alam sedang melakukan aktivitasnya.

Pemutaran film dokumenter pertama berjudul ‘Bayi Fitri’ yang berdurasi sekitar 29 menit mengisahkan tentang penderitaan pengungsi yang terkena bencana Merapi. Terutama dialami oleh seorang bayi bernama Fitri, yang pada saat itu tinggal di tempat penampungan dengan sarana yang sangat minim. Pengharapan terhadap bantuan pemerintah pun juga tidak kunjung tiba, sehingga menambah penderitaan bayi tersebut menjadi berlarut-larut.

Seusai pemutaran film pertama tersebut, dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter selanjutnya berjudul “Bukit Bernyawa” yang berdurasi sekitar 16 menit. Dikisahkan dalam film tersebut, Merapi bagi sebagian warga Desa Srunen, Cangkringan, Sleman dianggap sebuah gunung dan bukit yang bernyawa. Sehingga bencana Merapi bagi mereka merupakan hal yang lumrah, di saat bencana itulah gunung yang bernyawa tersebut sedang melakukan aktivitasnya.

Penitia pemutara film dokumenter, Fanni Chotimah mengatakan film tersebut diputar untuk memaknai bencana erupsi Merapi yang terjadi dua tahun lalu dari sisi yang berbeda. Satu sisi tentang penderitaan pengungsi dan di sisi lain yang menganggap bencana tersebut merupakan hal yang lumrah, bahkan sesudah bencana tersebut alam mengeluarkan isinya yang bisa dimanfaatkan dari segi ekonomi. “Kami ingin menyampaikan bahwa bencana merapi janganlah dipandang dari satu sisi namun juga dari sisi yang lain,” ungkapnya.

“Bukit Bernyawa”, film yang diputar pertama kali pada tahun 2011 tersebut telah meraih beberapa prestasi. Di antaranya menjadi nominator film dokumenter Jogjakarta dan mendapatkan penganugerahan film dokumenter di ajang Zebra Film Poetry International di Berlin Jerman 2012.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge