0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Cegah Konflik Sosial Berkepanjangan di Solo!

Dialog Publik Mencegah Terjadinya Konflik Sosial Berkepanjangan" yang digelar di Solo, Senin (22/10). (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat, khususnya di Kota Solo antara kelompok masyarakat tradisional dengan sebagian umat Islam menjadi topik perbincangan bertajuk “Dialog Publik Mencegah Terjadinya Konflik Sosial Berkepanjangan” yang digelar di Solo, Senin (22/10).

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, Makamhaji, Sukoharjo, M Dian Nafi’ mengatakan akulturasi Islam sudah ada sejak jaman runtuhnya Kerajaan Majapahit. Dengan menyisipkan agama Islam melalui kebudayaan tradisi tersebut akhirnya bisa diterima oleh kebanyakan masyarakat waktu itu.

Menurut Dian Nafi’, hingga saat ini pun akulturasi antara Islam dengan budaya tradisional tetap terpelihara. “Akulturasi tersebut menjadikan Islam dapat diterima oleh semua kalangan pada waktu itu,” jelasnya.

Sementara itu, Susiyanto MAg, budayawan dari Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) mengatakan, gesekan-gesekan yang terjadi antara umat Muslim tradisional dengan sebagian Muslim lainnya merupakan hal yang perlu disikapi oleh masing-masing kelompok, sehingga tidak akan terjadi gesekan antar kelompok yang tidak diinginkan.

Dengan mengkaji asal mula kedatangan agama Islam dari sumber masuknya maka akan terlihat jelas tentang kemurnian ajaran Islam dan ajaran tradisional. “Ajaran Islam saat ini telah bercampur dan menyatu dengan ajaran tradisi sehingga antar kelompok Islam harus saling menjaga dan menghormati dengan kelompok yang lain,” ujarnya Susiyanto.

Ketua Panitia Diskusi, Ahmad Safari Aljavani menjelaskan, acara tersebut diadakan untuk saling bertukar pendapat sebagai upaya mencegah terjadinya konflik sosial berkepanjangan antara masyarakat tradisional dengan sebagian umat Islam. “Dalam kehidupan masyarakat Surakarta yang dikenal kental dalam mempertahankan budaya dan tradisi, dalam beberapa tahun terakhir terganggu oleh kehadiran komunitas keagamaan yang cenderung eksklusif dan sangat memusuhi budaya lokal,” ujarnya.

 



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge