0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Turnamen Batik Cup

Timnas U-23 Kecewa Kalah dari Persis

Timnas U-23 harus gigit jari usai dikalahkan Persis Solo Plus, Sabtu (20/10) dalam laga Batik Cup. (Dok.Timlo.net/ Aryo Yusri Atmaja)

Solo — Di luar dugaan Timnas PSSI U-23 menyerah dari Persis Solo Selection dalam drama adu penalti 5-4 pada turnamen Batik Cup, di Stadion Manahan, Sabtu (20/10) sore. Dengan diperkuat tiga pemain andalan seperti Hendra Bayauw, Rasyid Bakri, dan Andik Vermansyah ternyata tak mampu menolong tim besutan Aji Santoso ini. Bahkan Timnas gagal menjaga keunggulan dua gol hingga sepuluh menit menjelang bubar.

Kekalahan tersebut jelas membuat kecewa pelatih dan para pemain. Tak hanya gagal mendapatkan tiket final di turnamen ini, tim yang dipersiapkan untuk kejuaraan SEA Games tahun depan juga harus menanggung malu kalah klub Persis Selection. Bahkan kalah saat disaksikan secara langsung pula oleh Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husein dan Ketua Komdis PSSI Bernard Limbong.

Salah satu tim pelatih Timnas U-23 Liestiadi mengungkapkan rasa kekecawaannya atas hasil yang didapat Andik Vermansyah Cs. Menurutnya, titik lemah Timnas U-23 terletak pada sektor pertahanan yang selalu terlambat menutup serangan lawan. “Sangat mengecewakan, karena kami sudah unggul 2 gol di babak pertama. Justru kemasukan 2 gol di akhir-akhir pertandingan. Lini belakang masih menjadi titik lemah dan menjadi pekerjaan rumah buat kami,” terangnya usai pertandingan.

Menurut Liestiadi, persiapan menghadapi turnamen Batik Cup di Solo memiliki keterbatasan. Menurutnya, banyak pemain yang berhalangan hadir dan sebagian baru datang dari Vietnam memperkuat Timnas senior. “Andik, Hendra Bayauw, dan Rasyid dalam keterbatasan kebugaran. Mereka baru saja tiba dari Vietnam dan langsung bermain. Sementara pemain lainnya jelas belum memiliki jam terbang dan mental yang kuat,” tambah eks asisten Wim Rijsbergen ini.

Liestiadi juga mengkritik kualitas rumput Stadion Manahan yang dianggapnya kurang rata, sehingga permainan timnya tidak bekerja secara maksimal. “Terus terang lapangan kurang rata, jadi sulit mengembangkan pola permainan. Batik Cup ini hanya kami gunakan sebagai batu loncatan menempa pemain-pemain muda. Setelah ini kami akan ikut Piala Gubernur dan selanjutnya fokus untuk persiapan SEA Games,” tutup Liestiadi.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge