0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pengurangan Resiko Bencana Merapi

BNPB Siapkan Shelter Berkapasitas 3000 Pengungsi

Kepala BNPB, Syamsul Maarif saat meninjau bangunan shelter di Kebondalem Lor, Prambanan, Klaten, Sabtu (20/10). (Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto)

Klaten – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan tempat pengungsian (shelter) permanen yang mampu menampung 3000 pengungsi warga terdampak langsung erupsi Gunung Merapi di wilayah Klaten.

Shelter itu dibangun di tiga lokasi, di antaranya di Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan; Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko dan Desa Menden, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten.

“Bangunan itu (shelter) dipersiapkan untuk warga terdampak langsung erupsi Merapi apabila ada informasi awal dari pusat vulkanologi mengenai tanda-tanda Gunung Merapi akan meletus,” ujar Kepala BNPB, Syamsul Maarif di sela  meninjau bangunan shelter di Kebondalem Lor, Prambanan, Klaten, Sabtu (20/10).

Syamsul menjelaskan, ada tiga fase mengenai tanda-tanda Gunung Merapi akan meletus. Di antaranya waspada, siaga dan awas. Melalui fase itu maka bisa ditentukan untuk penanganan terkini terhadap warga yang terdampak langsung erupsi Gunung Merapi.

“Menurut Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), kami diberi waktu paling tidak satu minggu untuk diberi informasi mengenai tanda-tanda Gunung Merapi mulai dari tingkat waspada, siaga dan awas. Begitu sampai siaga beberapa tingkat maka sebelum menjadi awas warga terdampak langsung harus segera diungsikan ke bangunan yang sudah kami persiapkan,” ujar Syamsul.

Syamsul menerangkan, bangunan shelter yang dipersiapkan itu disebut tempat evakuasi akhir atau jambor. Bangunan tersebut dilengkapi dengan fasilitas kebutuhan-kebutuhan primer untuk pengungsi, seperti tempat tidur, sanitasi, dapur umum, musola, kamar mandi, ruang kesehatan dan ruang pembelajaran.

Shleter yang dipersiapkan ada tiga paket bangunan. Paket pertama di Kebondalem Lor, Prambanan, sedangkan paket kedua dan ketiga di Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko dan Desa Menden, Kecamatan Kebonarum, Klaten. Dimana daya tampung setiap shelter 1000 orang pengungsi,” ungkap Syamsul.

Dibangunnya sheltershelter itu, kata Syamsul, sebagai wujud kepedulian pemerintah dalam pengurangan resiko bencana. Sedangkan pemanfaatan shelter ini bila tidak ada bencana akan digunakan untuk berbagai kegiatan kemasyarakatan.

“Untuk perawatannnya kami serahkan ke pemerintah desa masing-masing. Memang ada ancang-ancang untuk diberikan Memorandum of Understanding (MoU) dengan pemerintah desa setempat,” ujar Syamsul.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Sri Winoto, menambahkan pembangunan ketiga shleter tersebut menelan biaya Rp 10 miliar dari APBN 2011. Dimana untuk shleter paket pertama di Kebondalem Lor, Prambanan dana yang dianggarkan sebesar Rp3,4 miliar.

“Pembangunan saat ini baru mengerjakan proyek shleter paket pertama dan saat ini pengerjaannya sudah mencapai 44,67 persen. Sedangkan selanjutnya untuk pembangunan paket kedua dan ketiga yang berlokasi di Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko dan Desa Menden, Kecamatan Kebonarum menyusul,” kata Sri Winoto.

Sri Winoto menjelaskan, bangunan ketiga shelter tersebut rencananya diperuntukkan bagi warga terdampak langsung erupsi Gunung Merapi di wilayah Kecamatan Kemalang, Klaten.

Shelter di Kebondalem Lor, Prambanan diperuntukkan bagi pengungsi dari Desa Balerante dan desa-desa lain yang berada dibawahnya. Sedangkan shelter di Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko untuk warga Desa Tegalmulyo, dan shelter di Desa Menden, Kecamatan kebonarum untuk warga Desa Sidorejo,” papar Sri Winoto.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge