0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dua Orkes Keroncong Lesehan di TBJT

Orkes Keroncong Semar Mesem, Semanggi, Pasar Kliwon, Solo saat tampil dalam Lesehan Keroncong Asli, di TBJT (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Alunan tembang-tembang keroncong melantun merdu mewarnai Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Solo, Selasa (16/10). Alunan tembang yang dihadirkan oleh dua Orkes Keroncong (OK) secara bergantian, yaitu OK Semar Mesem (Solo) dan OK Puspita (Jogjakarta) menghibur penonton di tengah dinginnya malam itu dalam acara Lesehan Keroncong Asli yang rutin diselenggarakan pihak TBJT setiap bulan.

OK Puspita dari Jogjakarta, meskipun kebanyakan personel yang dibawanya sudah berusia lanjut, namun masalah musikalitas dalam melantunkan tembang keroncong tidak kalah dengan musisi-musisi keroncong muda. Sekitar 12 personel yang terbagi antara 8 musisi dan 4 penyanyi tersebut menghangatkan suasana dengan tembang dan langgam seperti Gesang Pahlawan Seni, Tirtonadi, Sungguh Tak Kusangka, dan sebuah tembang karya Mamad S Dahry berjudul Keraton Jogja yang merupakan ciptaan asli dari OK tersebut.

Meskipun baru berusia 3 tahun sejak didirikan tahun 2009 lalu, namun aktivitas mereka tidak main-main. Mereka sudah mempunyai jadwal tetap manggung di salah satu televisi negeri dan di sebuah stasiun radio terkenal di Jogjakarta disamping mentas di even-even lokal maupun festival-yang diadakan di berbagai daerah.

Pimpinan OK Puspita, Agnes Suwardi mengatakan, kelompok yang didirikannya tersebut merupakan nostalgia dari kelompok yang sudah ada dahulu. Meskipun mereka sekarang sudah berusia di atas 60 tahun, namun semangat serta jiwa seni untuk memberi contoh pelestarian musik keroncong kepada generasi muda tidak akan pernah hilang. “Kami membentuk kelompok orkes keroncong ini untuk memberi contoh kepada generasi muda bahwa yang tua-tua saja masih sanggup, masak yang muda tidak bisa,” ungkapnya ditemui Timlo.net, di sela-sela acara.

Sementara itu, pimpinan OK Semar Mesem dari Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Basuno mengatakan kelompoknya merupakan kumpulan dari warga sekitar khususnya RW VIII di lingkungan tersebut. Dibentuknya  OK Semar Mesem ini merupakan keprihatinan dari sejumlah warga dikarenakan setiap diselenggarakannya festival keroncong oleh Pemkot Solo, daerahnya tersebut tidak pernah mengirim perwakilan. Padahal di tempat tersebut banyak sekali musisi-musisi keroncong.

Nah, berawal dari situlah, Basuno dan beberapa penggagas lainnya menciptakan wadah untuk mengangkat daerah semanggi melalui kesenian keroncong. “Sebelumnya, setiap even keroncong yang diselenggarakan Pemkot Solo, daerah kami tidak pernah ada yang mewakili. Dari situlah kelompok OK Semar Mesem ini terbentuk,” ungkapnya.

Dalam acara tersebut mereka menyuguhkan tembang-tembang keroncong seperti Rangkaian Mutiara, Bengawan Solo, Bayangan Kasih, Caping Gunung, Terkenang dan sebuah lagu ciptaan kelompok mereka berjudul Tirtonadi ciptaan Juwanton. Acara tersebut ditutup dengan menyanyikan tembang berjudul Rayuan Pulau Kelapa bersama-sama kedua  OK tersebut.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge