0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pengoperasian Railbus Merugi, PT KAI Sambat

Railbus Bathara Kresna (Dok. Timlo.net/ Sahid)

Solo —  PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengharapkan pemerintah daerah (Pemda) di wilayah yang dilalui Railbus Batara Kresna untuk turun tangan memberi subsidi operasional kereta komuter tersebut. Pasalnya sejak beroperasi 5 Agustus lalu, PT KAI Daop VI selaku operator Railbus masih merugi.

PT KAI mengklaim kerugian itu karena load factor atau tingkat keterisian Railbus masih minim, khususnya untuk jurusan Sukoharjo-Solo (Purwosari). Dari kapasitas kursi 138 per gerbong, jumlah penumpang yang naik rata-rata hanya 10 orang. Sedangkan untuk jurusan  Solo- Yogyakarta, tingkat keterisiannya sudah mencapai 50 persen dari kapasitas.

Humas PT KAI Daop VI Eko Budiyanto mengakui, operasional Railbus belum bisa memberikan keuntungan. “Berapa kerugian nominalnya, saya belum tahu pasti. Tapi dilihat kasat mata saja, operasionalnya ora cucuk. Kalau penumpang Solo-Sukoharjo hanya 10 orang, apa ya nutup biaya operasional?” katanya, Selasa (16/10).

Pihaknya berharap, Pemda turun tangan, ikut membantu operasional, misalnya dengan memberikan subsidi, agar angkutan perintis itu tetap beroperasi tanpa menanggung kerugian terlalu tinggi. “Kalaupun tidak diberi subsidi, ya dibantu lewat sosialisasi. Agar animo masyarakat untuk naik Railbus meningkat,” imbuhnya.

Load factor Railbus saat ini belum mencapai angka ideal. “Idealnya, tingkat keterisian itu minimal 70 persen dari kapasitas. Jadi kalau kapasitasnya 138 kursi per gerbong, ya minimal dinaiki 90-an orang. Kalau yang Solo-Yogyakarta sudah lumayan lah, tapi yang ke Sukoharjo yang perlu perhatian,” ujarnya.

Dijelaskan Eko, Pemkot Solo mewacanakan agar kereta komuter itu berhenti di titik-titik tertentu di wilayah Kota Solo, terutama di pusat perbelanjaan dan wisata. Tujuannya, untuk memudahkan akses bagi calon penumpang untuk menggunakan moda transportasi tersebut, sekaligus berkunjung ke lokasi wisata atau berbelanja. Jika direalisasi, mungkin saja wacana itu bisa mendongkrak lead factor. Hanya saja, PT KAI masih menghitung sejumlah kendala teknis.

“Kalau berhenti di sejumlah tempat, yang jual tiket gajinya bagaimana? Perangkat atau komputer tiketnya biayanya dari mana? Jangan-jangan nanti malah tambah rugi,” tuturnya.

Tterkait wacana itu, PT KAI juga tidak berani berspekulasi karena berapa banyak calon penumpang yang bisa dijaring dari cara itu belum bisa dipastikan. PT KAI justru optimis lead factor Railbus akan mengalami kenaikan jika rutenya sampai ke Wonogiri. Hanya saja saat ini hal itu belum dimungkinkan lantaran masih proses perkuatan jembatan.

“Masyarakat Wonogiri kan mobilitasnya tinggi. Namun tahun ini tahap perkuatan jembatan sampai akhir tahun depan. Jadi kalau lancar akhir tahun 2013, rute Wonogiri baru bisa dilayani,” pungkasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge