0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Laweyan Jadi Percontohan Gerakan Budaya Bersih Desa Budaya

FGD Gerakan Budaya Bersih Desa Budaya di Hotel Sunan, Senin (15/10) menandai dijadikannya Kampoeng Batik Laweyan sebagai percontohan Gerakan Budaya Bersih Desa Budaya (Dok.Timlo.net/Daryono)

Solo –Kampoeng Batik Laweyan menjadi satu dari enam kampung yang menjadi percontohan nasional Gerakan Budaya Bersih Desa Budaya yang dicanangkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Mengapa Laweyan??   Hal ini semata-mata alasan revitalisasi. Demikian disampaikan Direktur Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Kemendikbud Prof Etty Indriati, PhD kepada Timlo.net, Senin (15/10) di Hotel Sunan Solo.

“Kampoeng Batik Laweyan ini dulunya  banyak pembatiknya, namun kemudian pembatiknya habis. Setelah batik ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO baru kemudian pembatik-pembatik itu hidup lagi, ini yang kemudian menjadi revitalisasi,” kata Etty.

Etty melanjutkan, terkait Gerakan Budaya Bersih Budaya, menurutnya bersih itu bisa bermacam-macam. Bisa bersih jiwa, bersih badan dan bersih lingkungan hidup misalnya membersihkan sungai. Kemudian adanya regulasi yang mengharuskan tiap rumah memiliki pekarangan untuk mengolah sampah. Hal itu juga menjadi bagian gerakan budaya bersih.

Dijelaskan, Gerakan Budaya Bersih Desa Budaya diisi dengan beberapa rangkaian. “Di hari pertama FGD ini yang pesertanya  stakeholders yang merupakan masyarakat itu sendiri. Lalu, besoknya kami kunjungan lapangan untuk mendapatkan suara akar rumput. Jadi, ini memetakan masalah sehingga program ini tidak hanya program top down tetapi juga mendapatkan masukan dari masyarakat. Sebagai contoh, tadi banyak masukan yang disampaikan oleh masyarakat dalam FGD. Misalnya penegakan hukum yang lemah.  Penegakan hukum yang semestinya menjadi gerakan moral,” tuturnya.

 



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge