0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pentas Teater di Taman Budaya Jawa Tengah

Obrok Owok-Owok, Ebrek Ewek-Ewek

Pergelaran teater di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Solo, Kamis (11/10) (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Pergelaran teater di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Solo, Kamis (11/10) mengangkat judul Obrok Owok-Owok, Ebrek Ewek-Ewek. Pementasan yang disuguhkan Kelompok Keluarga Segitiga Teater Kudus tersebut menghadirkan dua buah scene. Salah satu scene berlatar belakang pasar tradisional dan satu lagi berlatar belakangkan rumah seorang profesor.

Kedua scene tersebut ditampilkan secara bersamaan sehingga membuat penonton bertanya-tanya tentang makna yang tersampaikan di dalam pementasan tersebut.

Salah satu scene yang menggambarkan suasana pasar tradisional menceritakan tentang kompleksitas kehidupan pasar yang sarat akan dilematika dan problematika. Sedangkan scene satu lagi menceritakan tentang ketenangan di sebuah rumah seorang profesor yang jauh dari kompleksitas kehidupan.

Dari dua latar belakang atau kedua scene tersebut dihubungkan oleh salah seorang tokoh bernama Tomi. Tomi merupakan seorang pria yang sedang menempuh ujian Strata 2 dengan dosen pembimbing profesor tersebut. Namun di satu sisi Tomi merupakan disigner batik motif gaya baru. Karya terbarunya tersebut diberi nama Shadow’s of You’re Smile.

Dari sinilah konflik terjadi, Tomi yang seorang disigner batik tersebut dekat dengan seorang penjual pakaian batik bernama Sumirah. Telah bertahun-tahun Tomi menjalin cinta dengan Sumirah, namun dirinya juga sekaligus menjalin cinta dengan putri profesor yang bernama Kusningtyas seorang mahasiswa cantik Jurusan Kedokteran yang duduk di semester III.

Sutradara pementasan teater Obrok Owok-Owok, Ebrek Ewek-Ewek, Ahmad Zaki Yamani mengatakan pementasan berdurasi sekitar 1,5 jam tersebut mengangkat tema cinta segitiga antara Tomi, Sumirah dan Kusningtyas. Disamping itu dirinya juga mengangkat tema batik di dalam pementasannya tersebut. “Kami menyisipkan budaya lokal di pementasan ini, yaitu budaya batik,” tuturnya ditemui seusai pementasan.

Selain itu, lanjut Zaki, pementasannya tersebut mengadopsi naskah karya Danarto dengan penyesuaian alur cerita khusus. Pesan yang ingin disampaiakan dalam pementasan tersebut yaitu tokoh Tomi yang merupakan seorang terpelajar tertarik terhadap desain batik kontemporer namun hal itu terbentur dengan keinginan profesor yang ingin mengarahkannya kepada desain tradisional. Hal ini mengakibatkan kedua aliran tersebut tidak bisa tersatukan.

“Tokoh Tomi ini merupakan tokoh yang licik namun juga cerdik, di satu sisi diinya mengembangkan bakatnya tentang batik dengan mendekati Sumirah, namun di sisi lain dirinya mendekati Kusningtyas karena merasa dirinya bisa sebagai penerus keturunannya. Namun hal tersebut merupakan gambaran, kita harus bisa memilahnya dan mengambil segit positif dari seorang tokoh bernama Tomi,” pungkasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge