0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Harga Anjlok, Petani Ubah Sistem Pengeringan Tembakau

petani tembakau (foto ilustrasi). (Dok.Timlo.net/ nanin)

Boyolali — Anjloknya harga tembakau belakangan ini membuat petani di Boyolali mengubah cara untuk menekan kerugian. Salah satu caranya dengan mengubah sistem pengeringan. Kali ini para petani memanfaatkan sinar matahari secara langsung setelah sebelumnya menggunakan oven. Pilihan ini dilakukan selain menghemat biaya produksi juga bisa dilakukan di rumah.

Harga jual tembakau saat ini anjlok hingga 50 persen dari panenan tahun kemarin. Seperti misalnya untuk harga tembakau rajangan dari kelas paling jelek hingga kelas super, Rp 40.000 -Rp 90.000 pada panenan tahun kemarin, kini hanya berkisar Rp 15.000-Rp 55.000 perkilogramnya. Turunnya harga tembakau hingga  50 persen ini dirasakan seluruh petani tembakau, terutama petani tembakau rajangan di Ampel, Cepogo dan Selo.

Menurut Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Teguh Sembodo, ada beberapa faktor yang mempengaruhi turunnya harga tembakau, di antaranya kualitas tembakau sangat rendah, over produksi dan adanya pembatasan dari pabrikan yang tidak diberitahukan ke petani sebelumnya.

”Anjlok sekali, walaupun untuk Boyolali tidak separah di Temanggung, Kendal dan Blora, meski drastis sekali harganya, tapi sebagian petani masih bisa bertahan,” tandas Teguh, Kamis (11/10).

Untuk saat ini, lanjut Teguh, petani mulai mengubah cara untuk mengeringkan tembakau. Khususnya untuk tembakau asapan, dari biasanya menggunakan oven kini petani lebih memilih pengeringan langsung dengan sinar matahari. Selain hemat biaya produksi, harga perkilonya tidak beda jauh dengan sistim pengasapan.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge