0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bedah Buku "Keris Naga" di Balai Soedjatmoko

Basuki: Keris Tak Bisa Lepas dari Mistis

Bedah Buku "Keris Naga" di Balai Soedjatmoko (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Diskusi dan bedah buku tentang ‘Keris Naga’ Karya Basuki Teguh Yuwono diadakan di Balai Soedjadmoko Rabu (10/10). Dalam diskusi tersebut menghadirkan tiga orang pembicara diantaranya MT Arifin selaku pemerhati keris, Sri Eka Sapta Wijaya (Mpu atau ahli pembuat keris) serta Basuki Teguh Yuwono (penulis buku sekaligus Mpu keris). Buku ‘Keris Naga’ membahas tentang keris dengan dhapur naga dari berbagai aspek, latar belakang penciptaan, fungsi, sejarah, teknologi, estetik, karakteristik dan makna simbolik yang terkandung dalam tiap keris yang dibuat.

Dijelaskan Basuki, dunia perkerisan modern saat ini telah berkembang terutama dalam segi keindahan serta teknik-teknik pembuatan keris itu sendiri. Namun di sisi lain, banyak sekali para Mpu keris muda saat ini kurang mengasah segi spiritualisme dalam pembuatan keris. Hal tersebut tidak terlepas dari bergesernya fungsi keris sebagai senjata atau pelengkap busana Jawa.

“Di zaman dahulu keris merupakan sebuah Tosan Aji (barang berharga) sehingga dalam pembuatanyapun memerlukan kaidah serta aturan-aturan tertentu yang terkandung di dalamnya. Namun hal itu sekarang telah bergeser berdasarkan fungsi pembuatan keris itu sendiri,” ujarnya pria yang juga sebagai pengajar di Fakultas Seni dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Membicarakan tentang keris, lanjut Basuki, tentunya tidak terlepas dari hal mistis yang terkandung di dalam senjata warisan leluhur tersebut, mulai dari ritual, pembuatan sampai pada perawatannya. Namun hal itu dirasanya sebagai suatu hal yang mungkin malah membawa masyarakat pada hal sugesti.

Dirinya lebih menekankan pada proses pembuatan keris serta peran dan fungsi keris di masyarakat sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan. Hal tersebut dikemas menjadi suatu film yang bisa memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang seni perkerisan. “Bicara tentang keris memang tidak lepas dari hal-hal mistis, namun terkadang kita malah melupakan hal-hal yang terkandung di dalam sebuah keris tersebut,” ungkapnya.

Menututnya, keris saat ini telah mengalami perkembangan meskipun masih menekankan pada aspek estetikanya. Namun hal itu tidak diimbangi dengan pangsa pasar yang sehat. Harusnya diciptakan suatu wadah yang bisa menampung berdasarkan kualitas dan jenis keris mulai dari galeri seni, balai lelang maupun tempat-tempat penjualan lainnya. “Pangsa pasar keris saat ini perlu pembenahan khusus, sehingga diperlukan wadah yang jelas dalam pemasaran serta pengetahuan dalam dunia perkerisan,” pungkasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge