0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Produksi Teh Indonesia Nomor 5 di Dunia

Jumpa pers di PT Gunung Subur, Jaten, Karanganyar (dok.timlo.net/dhefi nugroho)

Karanganyar —  Produksi teh Indonesia berada pada urutan nomor 5 dunia. Meski berada pada urutan tersebut, namun konsumsi teh di Indonesia masih tergolong rendah.

Saat ini, produksi teh di Indonesia masih belum bisa merata. Produksi teh sendiri masih didominasi pada sejumlah daerah seperti Jawa, sebagian Sumatera dan Sulawesi. “Sebagian wilayah lain belum ada,” kata ahli rempah-rempah dan peracik teh Nusantara, Umar Syarif kepada wartawan, Rabu (10/10) di perusahaan teh Gunung Subur, Karanganyar.

Menurutnya, konsumsi terbesar teh masyarakat Indonesia berada di Jawa. Sementara sejumlah daerah lain di luar Pulau Jawa masih sangat minim. “Kalau dari kultur budaya masyarakatnya, di Jawa memang sudah biasa minum teh,” ungkapnya. Hanya saja, ia tidak memberikan berapa angka pastinya berapa konsumsi teh tiap bulannya.

Di satu sisi, hasil produksi teh dengan kualitas atas justru dinikmati konsumen luar negeri. Oleh produsen, sebagian besar teh kualitas terbaik menjadi komoditi ekspor bagi produknya. “Orientasinya ekspor. Beberapa teh kualitas nomor 1 di Indonesia justru diekspor ke luar negeri,” terangnya.

Hal tersebut memang tidak bisa dipungkiri. Sebab, pasar yang menjangkau produk-produk teh dengan kualitas terbaik berada pada konsumen luar negeri. Penyebabnya, persepsi masyarakat selama ini salah. “Orang memandang harga teh kualitas atas itu mahal. Padahal kalau dibandingkan dengan kopi, tidak ada apa-apanya,” ungkapnya.

Seperti halnya dengan salah satu varian teh, white tea, misalnya. Umar mencontohkan, harga per kilogram teh tersebut mencapai kisaran Rp 1,6 juta sampai dengan Rp 2 juta. “Orang melihat pada harga per kilogramnya. Tapi tidak melihat, satu kilogram white tea bisa dijadikan berapa ratus gelas. Justru harga teh lebih murah dari harga kopi,” terangnya.

Dari sisi kualitas, teh produksi Indonesia menurutnya lebih unggul dari Negara lain. “Teh yang diproduksi di Indonesia itu rata-rata jenis Asamica atau teh hitam. Jenis ini mengandung kafein yang lebih tinggi dan antioksidan yang lebih tinggi pula jika dibandingkan dengan teh jenis lain,” tuturnya.

Dari catatan Kementerian Perdagangan, kapasitas produksi teh tanah air mencapai 150 ribu ton tiap tahunnya. Separuhnya, sekitar 75 ribu ton, menjadi komoditi ekspor ke luar negeri. Rata-rata teh yang diekspor ke luar negeri adalah teh kualitas atas.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge