0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tunggu Janji BBWS

Warga Serenan Desak Normalisasi Bengawan Solo

Longsoran di bantaran Sungai Bengawan Solo mengancam pemukiman rumah warga di Desa Serenan, Juwiring, Klaten (Dok.Timlo.net)

Klaten – Warga Desa Serenan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten mendesak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo untuk segera melakukan normalisasi Bengawan Solo menyusul meluasnya longsoran di bibir sungai tersebut.

Kepala Desa Serenan, Akip, mengatakan di desanya ada sebanyak 50 rumah warga yang terancam longsor akibat gerusan arus pertemuan antara Sungai Bengawan Solo dengan Kali Dengkeng. Dari jumlah itu, tiga rumah warga diantaranya sudah bergeser lantaran tanahnya longsor.

“Rumah warga yang terancam longsor itu tersebar di tiga dukuh yakni Dukuh Badran RT 04/RW 02 dan RT 05/RW 02, Dukuh Nambangan RT 06/RW 03, serta Dukuh Sortanan RT 09/RW 08 dan RT 10/RW 08. Kondisi ini sudah sejak 2009 silam,” ujar Akip, akhir pekan kemarin.

Akip menambahkan, sedangkan tiga rumah yang bergeser akibat longsor diantaranya milik Broto (75), Sunardi (40) dan Mento (75). Ketiganya warga Dukuh Badran RT 04/RW 02.

“Rumah milik Broto kini sudah dipotong pada bagian belakangnya karena sudah longsor. Sedangkan rumah milik Mento sudah digeser tiga kali akibat longsor tahun lalu,” jelas Akip.

Akip menceritakan, jarak deretan rumah warga dengan bibir sungai awalnya lumayan jauh yakni 20 meter. Namun seiring dengan perjalanan waktu dinding sungai longsor akibat tak tahan terkena arus banjir. Saat ini tinggal satu meter jarak rumah warga dengan sungai.

Akip menjelaskan, melihat kondisi itu pemerintah desa sendiri telah berulangkali mengirimkan surat ke BBWS Bengawan Solo pada 2009 dan 2010 lalu. Dalam surat itu poin yang terpenting ialah warga meminta normalisasi sungai dan perbaikan dinding sungai dengan bronjong.

“Pihak BBWS memang sudah sering ke lokasi untuk melihat kondisi. Namun, hingga saat ini belum ada tindak lanjutnya. Kami disuruh menunggu dan menunggu,” ujar Akip.

Sementara itu, atas kondisi tersebut kini warga dihantui rasa was-was. Warga khawatir bantaran akan kembali longsor saat musim penghujan tiba.

“Untuk tidur saja kami tidak nyenyak. Apalagi saat musim penghujan tiba kami harus berjaga bergantian baik siang dan malam,” ujar Haryanto (48) warga Dukuh Badran, Desa Serenan.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge