0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ini Dia, Kisah Seorang Anak yang Diculik Makhluk Halus

Kesenian Tradisi Buk Buk Ting dari Klaten dalam pentas Gelar Kesenian Rakyat, Sabtu (6/10) malam. (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Kesenian Buk Buk Ting yang tumbuh dan menjadi kepercayaan di kalangan masyarakat dipentaskan dalam Gelar Kesenian Rakyat di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewo, Keraton Kasunanan Surakarta, Sabtu (6/10).

Kesenian yang menceritakan tentang seorang bocah yang disembunyikan oleh makhluk lelembut tersebut menjadi tema dalam kesenian ini. Dahulu kala, kebanyakan anak-anak bermain saat bulan purnama tiba. Disaat semua anak sedang asyik bermain, tiba-tiba salah seorang anak hilang disembunyikan oleh lelembut atau makhluk halus.

Saking bingungnya, orang tua yang anaknya disembunyikan lelembut tersebut meminta bantuan kepada salah seorang tetua desa setempat agar dibantu mencari anaknya yang hilang tersebut. Tetua desa akhirnya meminta warga agar membuat suara berisik dari gelas, tampah dan alat-alat dapur lainnya. Syarat yang lain adalah dengan membakar kembang telon (bunga tiga rupa), dan dupa untuk dibakar. Singkat cerita, lelembut yang tahu akan hal itu akhirnya tidak tahan dan melepaskan anak yang diculiknya saat dia bermain tadi.

Kesenian tradisional Buk Buk Ting yang dipentaskan tersebut diangkat dari kisah-kisah tradisional yang berkembang dimasyarakat. Hal itu dijelaskan oleh Suwarni Selaku Pelatih dan Pembina dari Sanggar Tari Kridolaras Planggu Trucuk Klaten. Dia juga mengatakan kesenian Buk Buk Ting yang dipentaskan oelh sekitar dua belas orang tersebut sebagian besar merupakan siswa Sekolah Dasar.

“Buk Buk Ting ini lahir dari kesenian yang tumbuh dan berkembang di masyarakat,” ungkapnya.

Buk-Buk Ting, Lanjut dia, memberikan gambaran bahwa seorang anak tidak sebaiknya bermain hingga malam menjelang. Disamping itu juga, petuah orangtua yang terkadang hanya dijadikan bahan ejekan oleh anak-anak terkadang menjadikan boomerang bagi mereka sendiri. “Anak-anak terkadang tidak mengindahkan petuah dari orangtuanya, namun hanya menjadikannya bahan ejekan. Maka dari itu akibatnya dirasakan oleh si anak sendiri,” ujarnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge