0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tari Srikandi Mustakaweni Mengisahkan Wanita Ksatria

Srikandi (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Gerakan lemah gemulai dari seorang wanita mempunyai makna terpendam didalamnya. Seperti tokoh yang diangkat pada malam Gelar Kesenian Rakyat di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewo Keraton Kasunanan Surakarta, Sabtu (6/10). Srikandi yang dilambangkan sebagai wanita cantik dalam pewayangan juga merupakan sosok prajurit yang disegani baik lawan maupun lawan.

Kepiawaiannya memainkan berbagai senjata, baik panah maupun keris tidak diragukan lagi. Sehingga dirinya pantas menyandang gelar seorang ksatria wanita. Dirinya tidak gentar menghadapi berbagai pertempuan salah satunya dengan Mustakaweni yang merupakan perwujudan dari nafsu angkara murka.

Tarian yang diberi nama Tari Srikandi-Mustakaweni tersebut diusung oleh Pakasa dari Kabupaten Karanganyar. “Dalam tarian ini menggambarkan bahwa seorang wanita selain mempunyai kelemahlembutan di dalam dirinya, juga harus bisa menjadi seorang ksatria yang bisa membentengi negerinya,” kata KMT Emi Wisbhowati, Ketua Pakasa Kabupaten Karanganyar.

Menurutnya, untuk gelaran ini membutuhkan waktu sekitar 2 minggu dalam pengerjaannya. Disamping itu, tarian yang dibawakan oleh dua orang perempuan tersebut merupakan gambaran bahwa GKR Koes Murtiyah Wandasari atau akrab disebut Gusti Moeng merupakan seorang sosok yang bisa mewakili dari tokoh Srikandi tersebut.

“Gusti Moeng yang mendapatkan penghargaan Fukuoka dari Jepang kemarin merupakan tokoh yang bisa menjadi gambaran sosok Srikandi di era modern ini,” ungkapnya.



Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge