0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Gelar Kesenian Rakyat di Keraton Solo

Seni Tayub Bikin Penonton Makin Guyub

Tari tayub di pentas Gelar Kesenian Rakyat, Jumat (5/10) malam. (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Kesenian Tayub yang terkadang dinilai miring oleh sebagian masyarakat mempunyai sejarah panjang dalam perjalanan dan kisahnya. Bahkan yang membuat tarian ini terkenal lantaran bisa membuat penonton jadi guyup ikut menari bersama sang penari.

Dalam Gelar Kesenian Rakyat di Sasana Semuwa Pagelaran Keraton Kasunanan Hadiningrat, Jumat (5/10), kesenian ini turut meramaikan peringatan penghargaan Fukuoka Jepang yang berhasil diperoleh GKR Koes Murtiyah Wandasari dalam bidang seni dan budaya. Diiringi irama Gamelan, Kenong, Saron dan Gong, empat penari Tayub menggeksplorasi selendang, menunjukkan keindahan gerakan-gerakan yang menggoda lawan jenisnya.

Bahkan, para penari ini juga mengajak para penonton menari bersama. Seperti halnya cirri khas tarian ini, penari memilih salah seorang penonton untuk diajak menari bersamanya. Hal itu ditandai dengan diberikan selendang sang penari kepada salah seorang penonton. Meskipun penonton tidak bisa menari sebagus penari utama, namun hal tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.

Penata Tari Pakasa Sragen, Mujiono mengatakan, Tari Tayub ini memiliki sejarah panjang sejak zaman Kerjaan Majapahit. Tarian ini menceritakan tentang keteguhan seorang pemuda dalam menghadapi godaan ledhek (penari wanita). Seusai pertapaannya, pemuda tersebut mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain. Dalam perjalannya dirinya diterpa berbagai godaan, salah satunya godaan dari penari ledhek tersebut.

Namun, berkat keteguhan dan kekuatan hatinya pengembara tersebut bisa menghadapi cobaan dan mengubah kesenian Tayub menjadi tarian yang lebih menghibur dan dihormati masyarakat.

“Tarian ini dulunya merupakan tarian penggoda, namun berangsur-angsur berubah menjadi kesenian penghibur masyarakat,” ujarnya.

Melalui kesenian ini, lanjut Mujiono, dirinya ingin menyampaikan bahwa kesenian yang telah jarang dipentaskan tersebut masih berkembang di Kabupaten Sragen. Diharapkan melalui gelaran ini masyarakat bisa menikmati serta mengapresiasi kesenian tersebut.

“Kesenian ini merupakan warisan leluhur dan kita wajib untuk melestarikan dan mengapresiasi kesenian ini,” ujarnya.

 



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge