0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Harga Tembakau Anjlok

Petani Tembakau Klaten Wadul Bupati

Petani tembakau Klaten (Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto)

Klaten – Petani tembakau di Desa Srebegan, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten mengeluhkan anjloknya harga tembakau hasil panen mereka. Petani menuding otoritarian pabrik dalam menentukan harga beli menjadi faktor utama turunnya harga tersebut.

“Penyebab turunnya harga hingga petani merugi salah satunya adalah otoritarian pabrik dalam menentukan harga beli. Ini yang membuat petani tidak bisa berbuat banyak,” ujar Subandi Budi Hartono (59), petani tembakau asal Dukuh Jayan, Desa Srebegan, Kecamatan Ceper, Kamis (4/10).

Subandi menjelaskan, otoritarian pabrik tersebut misalnya tembakau yang menurut petani masuk kelas A namun setelah sampai pabrik menjadi kelas B. Bahkan untuk yang kelas B menjadi kelas C.

“Agar tembakau yang menurut kami bagus dan tetap masuk kelas A harus menunggu lama. Bahkan petani harus mengemis baru bisa masuk kelas A. Kondisi itu membuat petani harus nurut dengan keputusan pabrik,” jelas Subandi.

Selain itu, kata Subandi, pabrik juga tidak serta-merta menerima seluruh tembakau yang disetorkan petani. Hanya yang masuk kelas A, AB dan B saja yang dibeli. Sedangkan tembakau kelas C tidak laku. Agar tidak merugi banyak, Subandi mengaku menjual tembakau yang tidak laku ke lokal.

“Harga tembakau saat ini turun drastis. Untuk tembakau kelas A dari harga Rp 23.000 kini menjadi Rp18.000 per kilogram. Sedangkan kelas AB dari Rp17.000 menjadi Rp15.000 per kilogram. Untuk kelas B dari Rp15.000 menjadi Rp13.000 per kilogram. Sedangkan kelas C dari harga Rp10.000 kini hanya Rp7.000 per kilogram. Bahkan untuk yang kelas C banyak yang tidak laku,” papar Subandi.

Kondisi yang sama juga dialami petani tembakau lainnya, Suwarno (57). Ia mencontohkan, dalam satu musim dirinya mampu mengoperasikan 25 open tembakau. Dimana setiap satu open menampung lima ton tembakau basah.

“Dari lima ton itu setelah diopen menjadi 7-8 kwintal tembakau kering. Dari jumlah itu biaya produksi yang harus dikeluarkan sekitar Rp3 jutaan. Sedangkan hasil penjualan sekitar Rp8,4 juta. Hasil itu kami masih rugi biaya produksi,” ujar Suwarno.

Padahal, kata Suwarno, kualitas hasil panen tahun 2012 ini lebih bagus ketimbang tahun 2011. Namun harga jual tahun ini cenderung menurun dari tahun lalu. Menurutnya, naik turunya harga itu kemungkinan lantaran ulah tengkulak.

“Kualitas hasil panen tembakau saat ini memang bagus karena iklimnya mendukung. Hanya saja kenapa harga jualnya bisa anjlok. Ini yang tidak kami mengerti. Kemungkinan memang permainan tengkulak,” ujar Suwarno.

Atas kondisi itu petani tembakau pernah wadul atau mengadu ke Bupati Klaten Sunarno. Petani memohon bantuan Bupati untuk memediasi antara petani tembakau dengan beberapa pengepul tembakau di Klaten.

Dengan mediasi itu petani berharap agar harga tembakau kembali normal dan tinggi sehingga petani tidak berlarut-larut merugi.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge