0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Paulus: Stadion Manahan Siap Kapanpun

Solo Siap Jadi Ajang Perang Timnas PSSI Vs KPSI

Ketua Panitia Khusus (Pansus) Raperda Trafficking, Paulus Haryoto (dok.timlo.net/red/aji)

Solo —  Kota Solo siap menyambut sebuah pertandingan spektakuler. Stadion Manahan siap menjadi ajang pertandingan Tim Nasional sepakbola Indonesia bentukan PSSI melawan Timnas bentukan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI). Wacana untuk mengadu dua timnas tersebut digagas oleh KPSI pimpinan La Nyalla Mattaliti mulai muncul beberapa hari terakhir ini.

Buntut dari dualisme pengurus di tubuh PSSI menjalar ke dualisme kompetisi. Tambah parahnya kini ada dua Timnas yang sama-sama mempersiapkan diri menghadapi Piala AFF akhir tahun ini. Gagasan untuk mengadu dua Timnas tersebut mulai didengungkan KPSI untuk membuktikan diri timnas mana yang lebih unggul dan mewakili Indonesia.

Ketua Panpel Pertandingan Lokal Solo Paulus Haryoto kepada wartawan, Kamis (4/10) menyatakan, kesiapannya apabila ditunjuk menjadi tuan rumah pertandingan dua timnas tersebut. “Kami dan Stadion Manahan siap menjadi tuan rumah pertandingan, kapanpun itu. Stadion, keamanan, fasilitas penunjang akan kami persiapkan. Bahkan suporter pasti akan banyak sekali yang datang,” beber anggota DPRD Kota Solo dari Fraksi PDIP ini.

“Kelayakan Stadion Manahan tak perlu diragukan lagi. Berulang kali Manahan digunakan mulai dari level lokal, nasional (final Liga Indonesia), hingga internasional (Liga Champions Asia dan uji coba Timnas dengan tim luar negeri),” tambahnya.

Menurut Paulus, alasannya bersedia menjadi tuan rumah pertandingan “dua Timnas” tersebut adalah lebih ke menunjukkan ke masyarakat Indonesia secara luas timnas mana yang terbaik. “Kami hanya ingin membuka mata masyarakat pecinta bola seluruh Indonesia, terlebih menentukan mana yang terbaik dan mana yang pantas sebagai wakil negara. 100 persen kami tak memihak salah satu Timnas,” terang Paulus.

Sikap untuk menyetujui gagasan KPSI yang menawarkan pertandingan dua timnas tersebut dipilih Paulus, lantaran kondisi kisruh sepakbola Indonesia yang tak kunjung reda. “Kami prihatin, masih ada kepentingan-kepentingan yang masih merusak sepakbola Indonesia. kalau wacana itu benar-benar akan dilaksanakan, kami siap ambil bagian. Sekaligus mencoba ikut mencari solusi masalah di PSSI,” pungkas Paulus.

Kendati demikian, gagasan untuk menggelar pertandingan “dua Timnas” tersebut tampaknya akan menemui jalan buntu. Pasalnya para pemain dua timnas tersebut tak setuju jika harus diadu. Pemain Persisam Samarinda Ferdinand Sinaga yang saat ini mengikuti Training Camp (TC) tim KPSI di Batu, Malang, secara tegas menolak. Menurutnya, tindakan itu hanya membuat suasana semakin kacau.

“Kurang baiklah, kita semua teman. Saya pribadi menolak. Kalau saya ditawarkan suruh bermain, berat sekali. Harusnya mereka KPSI dan PSSI bisa bicara baik-baik. Pemain sama-sama membela negara. Kalau tujuannya mau seleksi atau mencari pemain terbaik, tidak seperti itu caranya,” tegas Ferdinand seperti yang dilansir detiksport, Rabu (3/10) kemarin.

Pemain Timnas bentukan PSSI, Valentino Telaubun (asal Bontang FC IPL)  juga  menolak jika proses seleksi pemain dengan cara seperti itu. “Saya belum tahu baru dengar kabarnya sekarang. Tetapi kalau menurut saya tidak logislah kalau mau seleksi pemain dengan cara seperti itu. Cuma memperkeruh keadaaan. Kalau mau, semua pemain dipanggil untuk diseleksi, tapi dengan cara yang solid,” katanya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge