0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Cegah Krisis Air Bersih

Warga Tulung Rame-rame Bikin PAM Swadaya

Wartono tengah memperbaiki sumur bor miliknya. Sumur itu menjadi sumber utama kebutuhan air bersih warga Dukuh Dungus, Desa Mundu, Tulung, Klaten (Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto)

Klaten – Guna memenuhi kebutuhan air bersih, sebagian warga Dukuh Dungus RT 04/RW 03, Desa Mundu, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten memilih membuat perusahaan air minum (PAM) secara swadaya. Air bersih memanfaatkan sumur bor milik salah satu warga setempat.

Ketua RT 04/RW 03 Dukuh Dungus, Desa Mundu, Teguh Sutikno, menuturkan dari 26 kepala keluarga di RT 04, pipanisasi air bersih sudah terpasang di 16 saluran rumah tangga di Dukuh Dungus. Pengadaan saluran telah menghabiskan biaya Rp 16 juta yang merupakan swadaya warga.

“Saluran sudah terpasang sepekan ini. Untuk membuat saluran ke rumah tangga, setiap kepala keluarga iuran Rp1.030.000. Uang itu digunakan untuk pembelian pipa, meteran air dan seperangkat kebutuhan saluran,” ujarnya, Rabu (3/10).

Teguh menjelaskan, saluran air bersih itu memanfaatkan sumur bor milik Wartono (45) warga setempat. Dengan adanya potensi sumur utama itu ia berharap kedepan ada penambahan pemasangan di rumah warga yang saat ini belum terpasang.

“Kami bersama warga lainnya akan membentuk sebuah kepengurusan yang bertugas mencatat dan mengelola uang masuk hasil dari PAM swadaya itu. Uang pajak bulanan akan digunakan sebagai biaya membeli solar dan perbaikan diesel di sumur utama. Sedangan sisanya untuk kas,” jelas Teguh.

Suyadi (44) warga Dukuh Dungus, mengaku terbantu dengan adanya PAM swadaya tersebut. Hal itu mengingat kondisi air sumur miliknya kurang begitu jernih jika untuk dikonsumsi. Sedangkan jika membeli air bersih lewat tangki biayanya mahal.

“Saya memilih membuat saluran PAM secara swadaya bersama warga lainnya karena lebih efisien dan setiap saat terpenuhi. Sebab jika membeli air bersih melalui tangki lebih mahal yakni antara Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per tangki, itupun habis dalam dua pekan,” ujar Suyadi.

Sementara itu, pemilik sumur utama, Wartono (45), mengatakan ide awal menyalurkan air bersih bermula dari cita-citanya yang ingin membuat sumur dalam untuk kepentingan warga disekitarnya.

“Awalnya tetangga dekat menyalur, namun lama-kelamaan warga lainnya tertarik dan berinisiatif iuran secara swadaya membuat saluran pipanisasi.

Wartono menerangkan, sumur bor yang menjadi sumber utama itu ia buat sendiri dengan kedalaman 110 meter. Air sumur disedot dengan menggunakan diesel yang kemudian ditampung ke dalam tandon air berukuran lebar 3,5 meter, panjang 7,5 meter diatas ketinggian 14 meter. Sedangan tandon itu mampu menampung 60 ribu liter air.

“Memang saya sengaja membuat sumur bor dengan ukuran tandon besar itu untuk kepentingan warga sekitar. Artinya warga boleh menyalur air bersih untuk kebutuhan sehari-sehari. Jadi sumur itu tidak untuk bisnis,” jelas Wartono.

Wartono sendiri berencana akan membuat sumur bor serupa untuk disalurkan ke seluruh warga Desa Mundu dan desa-desa tetangga. “Pembuatan sumur dalam itu mengingat masih ada potensi titik air di wilayah Desa Mundu,” imbuhnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge