0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Gerakan #BatikDay Semarakkan Hari Batik Nasional

Hari Batik diperingati setiap tanggal 2 Oktober (dok.timlo.net/ist)

Solo — Memperingati Hari Batik Nasional, Selasa (2/10), para pegawai sejumlah kantor dan instansi di Solo mengenakan baju batik. Peringatan Hari Batik kali ini merupakan tahun ke-4 sejak UNESCO (Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya) menetapkan batik Indonesia sebagai salah satu warisan dunia kategori “Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sekaligus mendorong pelestariannya agar lebih dikenal oleh dunia.

Dalam memperingati Hari Batik Nasional 2012, sekumpulan masyarakat Indonesia pecinta batik berinisiatif untuk membuat sebuah gerakan yang dinamakan “#BatikDay, Celebrating a National Pride and a Cultural Heritage of Indonesia”. Sebagai salah satu momentum pelestarian dan pengenalan batik kepada dunia internasional, gerakan ini berharap kecintaan masyarakat Indonesia akan batik dapat semakin dalam dan makna filosofinya bisa menjadi bagian dari jiwa masyarakat Indonesia untuk semakin sabar, teliti dan tekun dalam menjalani kehidupan.

Salah satu inisiator Gerakan #BatikDay, Shinta Dhanuwardoyo yang juga seorang praktisi industri digital di Indonesia mengatakan,  #BatikDay adalah gerakan spontanitas yang berasal dari hati nurani. “Walau batik sudah menjadi keseharian masyarakat Indonesia sejak lahir dan dikenakan untuk acara resmi maupun santai, kami ingin masyarakat Indonesia lebih dari sekadar memakai, tapi juga mengenal sejarahnya, mengetahui arti dan filosofi motif-motifnya sehingga kecintaannya terhadap batik bukan karena reaksi persaingan akan gugatan kepemilikan batik oleh negara lain, tetapi karena memang merasa memiliki. Sayang sekali jika lembaga dunia sudah mengakui, namun yang tahu hanya di lokalnya saja. Oleh karena itu, pada gerakan ini kami menggunakan bahas Inggris, Batik Day, dan bukan Hari Batik agar dunia internasional lebih mudah terpapar informasi menenai batik Indonesia,” tambah Shinta.

Program-program pun dirancang untuk semakin mengisi gerakan ini, seperti keterlibatan beberapa blogger internasional dan nasional, kompetisi desain nuansa batik di portal-portal nasional, aplikasi desain batik untuk Facebook dan tak ketinggalan website (http://batikday.com) sebagai “rumah” dari seluruh kegiatan gerakan ini yang juga dimaksudkan sebagai pusat informasi mengenai batik Indonesia yang mulai dapat diakses pada tanggal 1 Oktober 2012 malam.

Gerakan #BatikDay mencoba menghimpun beberapa pihak untuk terlibat dan mendukung program-program di dalamnya seperti, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kementerian BUMN yang akan memberikan apresiasi menarik bagi blogger internasional yang berpartisipasi dalam gerakan ini untuk berkunjung ke Jakarta Fahion Week 2013 dan kunjungan ke sentra batik bagi para blogger nasional. “Kami mengajak banyak pihak untuk gerakan ini. Desainer website, desainer aplikasi media sosial, pengusaha batik, desainer fashion dan banyak lainnya agar gerakan ini semakin dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Dengan perencanaan yang cukup singkat, kami juga mencoba mengajak beberapa merek besar yang memiliki kegiatan yang berkorelasi dengan batik untuk bergabung bersama kami,” tutur Shinta yang dalam waktu luangnya mencurahkan tulisan mengenai kecintaannya akan batik di blognya, http://batikantik.com.

Dalam rilis yang diterima Timlo.net, disebutkan, untuk program kompetisi yang akan dilaksanakan sejak 2 Oktober – 5 Oktober 2012, dapat diikuti siapapun yang telah memenuhi syarat dan masyarakat juga bisa memberikan dukungan dengan memilih yang paling mereka sukai.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  Mari Elka Pangestu dalam sebuah perbincangan dengan #BatikDay, sempat berujar mengenai perkembangan batik sebagai bagian dari industri ekonomi kreatif yang sangat erat berhubunga juga dengan industri fashion. “Sekitar 30-40% industri ekonomi kreatif Indonesia disemarakkan dengan usaha batik dan saat ini kita bisa melihat betapa batik telah berevolusi dari teknik pembuatannya dan bagaimana masyarakat mengapresiasi batik dalam kehidupan mereka,” ujarnya.

Menurut Mari Elka Pangestu, saat ini yang terpenting bagaimana menyediakan wadah yang tepat agar masyarakat, terutama orang-orang muda dapat belajar memproduksi batik. “Kemudian mengembangkannya dan memiliki keyakinan bahwa batik pun dapat menjadi sumber penghidupan yang layak bagi mereka,” tambahnya. (*)



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge