0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Mbah Prapto: Karya Seni Bukan Barang Dagangan

Suprapto Suryodarmo (Mbah Prapto) (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Seniman Solo, Suprapto Suryodarmo merasa tersinggung dengan pernyataan Menteri Pariwisata dan Perekonomian Kreatif (Menparekraf), Marie Elka Pengestu yang akan menjadikan Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) sebagai etalase karya seni kerajinan. Menurut Mbah Prapto, memajang karya seni dalam etalase berarti melecehkan karya seni itu.

“Karya seni itu bukan barang dagangan dan tidak pantas dipajang di etalase,” kata koreografer yang akrab disapa Mbah Prapto ini kepada wartawan, Kamis (26/7).

Karya-karya kerajinan, menurut Mbah Prapto adalah karya manusia dan karya kemanusiaan. Sedangkan etalase biasanya identik dengan dan memajang benda. Padahal karya seni tak bisa disamakan dengan barang. “Kita perlu mengkritisi pernyataan itu karena, hal itu bisa dikatakan tidak manusiawi,” katanya.

Menurutnya, karya seni budaya tidak bisa disamakan dengan barang yang bisa diperjualbelikan. Karya seni bukan sebuah materi melainkan karya cipta karsa dan rasa. Jika seni budaya dianggap materi, lanjutnya, maka sangat tidak pas.

“Karya seni itu bukan barang yang bisa diperjual belikan, ini hasil olah karya cipta dan karsa,” jelasnya.

Mbah Prapto menambahkan, yang paling parah jika 25 taman wisata di Indonesia dikatakan dengan konteks etalase, maka masyarakat akan kehilangan ruang untuk menggali cita rasa seni.

“Kalau dijadikan etalase nanti akan terkesan dikomersiilkan. Khawatirnya, nanti masyarakat kehilangan ruang untuk berkesenian,” ujar pemilik Padepokan Lemah Putih, Plesungan, Karanganyar ini.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge