0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Suluk Banyu, Lakon Wayang Kritik Privatisasi Air

Wayang Beber Kota di Pekan Wayang di TBJT Solo. (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Wayang Beber Kota (WBK) dengan judul Suluk Banyu merupakan pementasan kedua di hari terakhir Pekan Wayang Jawa Tengah 2012, di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Solo, kemarin. Wayang Beber Kota berbeda dengan Wayang Beber Tradisi. Kebanyakan tema untuk Wayang Beber Kota adalah seputar isu sosial yang terjadi di sekitar masyarakat.

Seperti penampilan kelompok Wayang Beber Kota yang didalangi Ki Tri Ganjar Wicaksono. Inti cerita dari Wayang Beber Kota yang ditampilkannya adalah privatisasi sumber mata air. Air yang seharusnya menjadi milik bersama di suatu desa ternyata dimonopoli oleh satu perusahaan. Akhirnya masyarakat di desa tersebut kehilangan sumber air yang berguna untuk kebutuhan sehari-hari. Singkat cerita, penduduk desa tidak puas dengan kebijakan perusahaan itu dan beramai-ramai mendemo perusahaan yang memonopoli.

Tri Ganjar Wicaksono mengatakan, hal tersulit dalam memainkan Wayang Beber Kota ini adalah membentuk imajinasi penonton. Dikarenakan Wayang Beber merupakan media dua dimensi sehingga peran dalang sangat signifikan dalam membawakan suatu alur cerita. “Dalang harus bisa mengarahkan penonton untuk memahami cerita yang disampaikan,” ujarnya kepada Timlo.net beberapa waktu lalu.

Ditambahkan, dirinya ingin membuat sebuah jembatan antara Wayang Beber Kota dengan Wayang Beber Tradisi. Diharapkan nantinya kesenian ini tidak akan hilang dan tetap bisa dikenal baik yang muda maupun yang tua. “Wayang Beber Tradisi mempunyai pemahaman yang sangat dalam,sehingga kaum muda jarang yang bisa memahami. Dari situlah maka saya mengambil isu-isu sosial yang berkembang untuk dijadikan tema dengan media Wayang Beber ini untuk menyampaikannya,” ujar dalang yang pernah kehilangan laptopnya tersebut.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge