0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Prinsip Mbah Kawit Jadi Kunci Hidup Damai

Sahita Tampilkan Sosok Mbah Kawit

Solo – Pada akhirnya, semua makhlak yang hidup di dunia pasti kembali ke akhirat tak terkecuali manusia. Dinamika negatif yang menjadi sifat-sifat buruk manusia seperti saling tindih, saling hujat, dan perebutan kekuasaan menjadi keprihatinan tersendiri bagi Mbah Kawit. Dengan mengingat kematian, tak seharusnyalah manusia saling rebut karena sesungguhnya hal-hal duniawi ini tak akan abadi atau dibawa mati.

Sosok Mbah Kawit yang jujur dan setia ini menjadi inspirasi kelompok teater tari Sahita. Semangat Mbah Kawit yang dikolaborasi dengan tarian yang menggambarkan kenihilan dicampuradukkan menjadi satu pertunjukkan tari teatrikal jenaka berjudul Srimpi Ketawang Lima Ganep yang ditampilkan di Padepokan Lemah Putih, Mojosongo, Jebres, Solo, Selasa (16/8) malam.

Dirasakan dari judulnya memang tampak janggal. “Ketawang itu nama tari Bedoyo, bukan Srimpi. Lima juga bukan angka genap tapi ganjil. Sebuah  kebaikan yang seharusnya ada, semuanya tinggal harapan yang nihil. Kira-kira hal inilah yang ingin kami suarakan,” ucap Wahyu Widayati, salah satu anggota Sahita usai pertunjukkan.

Sedangkan Mbah Kawit sendiri adalah tokoh utama pada lakon Tuk, sebuah naskah drama karya almarhum Kenthut Bambang Widoyo yang pernah ditampilkan oleh Teater Gapit dalam drama bahasa Jawa. Sosok Mbah Kawit adalah orang yang memegang teguh prinsip keikhlasan, kejujuran, dan kesetiaan. Malam itu, Sahita ingin menyampaikan tentang Mbah Kawit yang ngudoroso mengenai keadaan nyata saat ini.

Empat anggota Sahita menampilkan empat karakter manusia. Ketika salah satu memberikan petuah-petuah kehidupan, tiga lainnya asyik sendiri dengan kesibukannya atau mengobrol bersama. Ketika ada dari mereka memperhatikan tumbuhnya budaya dengan menari, yang lain malah menggangu sehingga membuat sang penari tersandung. Dari peristiwa-peristiwa ini, si korban tidak membalas perbuatan buruk rekannya, ia menerimanya dengan penuh keikhlasan. “Pesan Mbah Kawit, semua itu sudah ada yang mengatur. Perbuatan baik atau buruk sudah ada yang membalasnya sendiri, yaitu ya yang memiliki kehidupan. Manusia tak perlu berpusing-pusing memikirkan balasan,” tutur Wahyu yang akrab disapa Inong ini.

Keadaan yang semakin runyam di dunia ini membuat Mbah Kawit kecewa. Kedamaian yang ia harapakn tinggalah menjadi angan-angan semata. Nihil, hanya itulah yang Mbah kawit dapat dari mengenal dunia.

Tema yang mereka sampaikan memang terkesan berat dan begitu mengkritisi keadaan saat ini. Namun dengan pendekatan kesenian apalagi sepanjang pertunjukkan didominasi humor, membuat siapa saja dari segala jenis umur dapat menyaksikan pertunjukkan ini. Dandanan mereka yang khas dengan wajah nenek-nenek dan pakaian seadanya ditambah dengan jarik membuat mereka terlihat benar-benar rakyat.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge