0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kolaborasi Slamet Gundono dan Seniman Belanda

Wayang Si Bulbul Manggung di TBJT

Solo – Membicarakan tentang manusia tidak akan ada habisnya karena keunikannya. Manusia adalah makhluk yang lemah dan juga kuat, pintar dan juga bodoh, baik dan juga jahat. Harta yang paling berharga dimiliki manusia adalah hati. Sementaragodaan yang paling besar bagi manusia adalah kenyamanan dunia.

Tema ini menjadi tema pertunjukan dalam proyek “wayang orkestra berjudul Bulbul dan Histoire du Soldat (mau ketemu iblis…?)” yang dibawakan oleh kelompok orkestra Dutch Chamber Musik Company dari Belanda bersama seniman-seniman Yogyakarta dan Solo, di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Jumat (12/8) malam

Proyek ini diinisiasi oleh Raymond Vievermanns, seorang musisi dari Belanda yang menikah dengan perempuan Jogja. Keterlibatannya yang cukup lama dengan kesenian di Indonesia (terutama Jogja) membuatnya ingin menginisiasi pertunjukan yang memadukan antara kesenian barat dan timur.

Raymond kemudian bertemu dengan karya Igor Stravinsky ‘Histoire du Soldat’, sebuah karya yang dibuat pada era perang dunia I. Bercerita tentang seorang prajurit yang menjual jiwanya (digambarkan dengan biola) kepada setan untuk kenikmatan-kenikmatan duniawi.

Karya tersebut sudah diadaptasi oleh berbagai negara, namun belum pernah diadaptasi di Indonesia. Hal ini kemudian mendorong Raymond untuk mengajak Gerard Mosterd, kemudian Eko Suprianto, Jamaluddin Latif, Martinus Miroto dan Sri Qadariatin untuk mewujudkan pertunjukan Histoire du Soldat bersama Dutch Chamber Music Company.

Selain membawakan “Histoire du Soldat (mau ketemu iblis..?)”, dalam proyek ini Raymond juga menggandeng Slamet Gundono untuk membawakan wayang orkestra “Sibulbul” sebuah cerita oleh Hans Christian Andersen tentang sebuah kerajaan di Negri Cina dan seekor burung Bulbul. Slamet Gundono mengatakan ada satu kata si burung Bulbul yang sangat dia sukai yaitu saat si Bulbul berkata kepada sang raja, “Aku lebih memilih hati daripada mahkota raja yang sakral terbuat dari emas”. Kata-kata yang menggambarkan kearifan tentang hidup, yang seringkali sulit untuk kita terapkan.

Dalam proyek ini, Dutch chamber music company juga membawakan beberapa musik karya Slamet A. Sjukur, Gatot D. Sulistiyanto dan Michael Asmara.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge