• Kamis, 24 Mei 2012
Celengan Tanah Liat

49 Tahun Ngalap Berkah Sekaten

Andi Penowo - Timlo.net
Senin, 14 Februari 2011 | 22:16 WIB
  • Share
Dok. Timlo.Net/Andi Penowo
CELENGAN-Muhari menanti pembeli di areal Sekaten. Sejak 49 tahun lalu Muhari menjajakan celengan tanah liat saat Sekaten tiba.

Solo – Gerimis yang sempat membasahi Alun-alun Utara, Sabtu (12/2) siang itu, membuat Sekaten yang biasanya penuh sesak pengunjung, tampak lengang. Tak banyak aktivitas transaksi, pedagangpun hanya termangu sambil sesekali menyingkapkan lembaran-lembaran plastik penutup barang dagangan untuk menghindari guyuran air hujan.

Begitu pula Muhari, pria berusia 70 tahun itu terduduk lesu menanti pembeli yang singgah di lapaknya. Dengan sebatang rokok kretek yang tinggal separuh, ia mencoba menghangatkan diri ditemani secangkir kopi pahit buatan istrinya.

Tak terasa 49 tahun sudah Muhari menggelar celengan tanah liat yang menjadi barang dagangannya di Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta. Satu kalipun, pria yang bermukim di Jepara ini tak pernah melewatkan acara Sekaten yang menjadi tradisi tahunan Keraton Kasunanan Surakarta.

Kendati usianya sudah tidak muda lagi, namun keinginannya untuk ngalap berkah Sekaten terus mendorongnya berdagang hingga kini. “Selama masih sehat, saya akan tetap jualan sampai kapanpun,” tutur Muhari. Kepada Timlo.net, Muhari mengaku sejak kali pertama berdagang hingga kini tetap tidak mengubah barang dagangannya, yakni  celengan tanah liat.

Itu karena, menurut dirinya celengan tanah liat merupakan barang dagangan khas Sekaten dan ia pun yakin peminatnya masih tetap banyak. Pria yang semasa mudanya menafkahi keluarga dari hasil bertani ini, mengaku tidak membuat sendiri barang dagangannya, melainkan mendatangkannya dari Bojonegoro.

Meski peminat celengan tanah liat masih banyak, namun Muhari mengatakan permintaan tidak sebanyak beberapa puluh tahun lalu. Pasalnya, saat ini jumlah pesaing semakin banyak. Celengan yang dipasarkannya pun dibanderol dengan harga bervariasi mulai dari Rp 5000 hingga Rp 60 ribu, bergantung ukuran.

Sejak berdagang pada 1962, hingga sekarang pria yang dibantu sang istri dalam menjajakan barang dagangannya tersebut, tetap mempertahankan bentuk celengan tanah liat dagangannya. Celengan berbentuk Semar, harimau, kura-kura, gajah dan sapi menurutnya tetap banyak peminat lantaran dianggap sebagai produk khas Sekaten.

         

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

iklan PLN

iklan innity

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.

iklan mettafm

iklan monex indonesia

iklan bank jateng

iklan JS 300×125