49 Tahun Ngalap Berkah Sekaten
Solo – Gerimis yang sempat membasahi Alun-alun Utara, Sabtu (12/2) siang itu, membuat Sekaten yang biasanya penuh sesak pengunjung, tampak lengang. Tak banyak aktivitas transaksi, pedagangpun hanya termangu sambil sesekali menyingkapkan lembaran-lembaran plastik penutup barang dagangan untuk menghindari guyuran air hujan.
Begitu pula Muhari, pria berusia 70 tahun itu terduduk lesu menanti pembeli yang singgah di lapaknya. Dengan sebatang rokok kretek yang tinggal separuh, ia mencoba menghangatkan diri ditemani secangkir kopi pahit buatan istrinya.
Tak terasa 49 tahun sudah Muhari menggelar celengan tanah liat yang menjadi barang dagangannya di Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta. Satu kalipun, pria yang bermukim di Jepara ini tak pernah melewatkan acara Sekaten yang menjadi tradisi tahunan Keraton Kasunanan Surakarta.
Kendati usianya sudah tidak muda lagi, namun keinginannya untuk ngalap berkah Sekaten terus mendorongnya berdagang hingga kini. “Selama masih sehat, saya akan tetap jualan sampai kapanpun,” tutur Muhari. Kepada Timlo.net, Muhari mengaku sejak kali pertama berdagang hingga kini tetap tidak mengubah barang dagangannya, yakni celengan tanah liat.
Itu karena, menurut dirinya celengan tanah liat merupakan barang dagangan khas Sekaten dan ia pun yakin peminatnya masih tetap banyak. Pria yang semasa mudanya menafkahi keluarga dari hasil bertani ini, mengaku tidak membuat sendiri barang dagangannya, melainkan mendatangkannya dari Bojonegoro.
Meski peminat celengan tanah liat masih banyak, namun Muhari mengatakan permintaan tidak sebanyak beberapa puluh tahun lalu. Pasalnya, saat ini jumlah pesaing semakin banyak. Celengan yang dipasarkannya pun dibanderol dengan harga bervariasi mulai dari Rp 5000 hingga Rp 60 ribu, bergantung ukuran.
Sejak berdagang pada 1962, hingga sekarang pria yang dibantu sang istri dalam menjajakan barang dagangannya tersebut, tetap mempertahankan bentuk celengan tanah liat dagangannya. Celengan berbentuk Semar, harimau, kura-kura, gajah dan sapi menurutnya tetap banyak peminat lantaran dianggap sebagai produk khas Sekaten.
Berita Terkait
Berita Terkini
- 30 Personel Siaga di Keraton Solo
- Dihalang-halangi, Hangabehi Lapor P...
- Hangabehi dan Tedjowulan Masuk Sasa...
- Mbah Liem Wafat, Dimakamkan Malam J...
- Ini Dia, Guru dan Kepala Sekolah Be...
- Mau Masuk Keraton, Hangabehi –...
- Sopir Ngantuk, Truk Tronton Nggolin...
- Hangabehi dan Tedjowulan Kompak Ket...
- Komik Jepang dan Korea Digemari ABG...
- Pasoepati Akan Ngluruk ke Cilacap
- Mengenang 6 Tahun Gempa di Monumen ...
- Anak SD Rame-rame Tolak Lady Gaga
- Ditabrak Truk, Bus Serba Mulya Nyun...
- DPU Solo Bentuk Satgas Khusus Penar...
- Juwangi Jadi Sasaran TMMD
Berita Terpopuler
- Batal Konser, Lady Gaga Jalan-jalan...
- Selama di Jakarta, Jokowi Pilih...
- Kerabat Keraton Tolak Tedjowulan...
- Foto Rekonsiliasi Dua Raja Beredar
- Aneh, Ular Piton Ini Kerap Menangis...
- KGPH Puger Ambil Alih Tugas Sinuhun...
- Isi Maklumat Rekonsiliasi Dua Raja...
- Gedung Bertingkat 28 Segera Berdiri...
- Kecelakaan Beruntun di Gembongan


30 Personel Siaga di Keraton Solo
Hangabehi dan Tedjowulan Masuk Sasa...
Hangabehi dan Tedjowulan Kompak Ket...
Inilah Kronologi Penandatanganan Re...
Kerabat Kusumowandowo Ingin Diperte...
Besok, Hangabehi-Tedjowulan Bertemu...