0271-3022735 redaksi@timlo.net
default-logo

Senja dengan 2 Kelelawar, Makna Cinta yang Mendalam

- Timlo.net
dok.timlo.net/achmad khalik

dok.timlo.net/achmad khalik

Salah satu adegan drama berjuudl "Senja dengan 2 Kelelawar" yang dimainkan Teater Cermin di TBJT, Rabu (15/5) malam

Solo – Lantunan musik berirama keroncong terdengar sayup di malam hari, di sebuah tempat dekat perlintasan kereta api, sebuah bangku tempat bercengkrama orang-orang di sekitar stasiun berada. Di tempat tersebut, Ismiyati selalu memandang Suwarto dengan perasaan cinta yang terpendam. Sementara, Suwarto telah mempunyai istri bernama Mursiwi.

Berkali-kali, Marsudi (ayah Ismiyati) mengingatkan anaknya tersebut agar melupakan cintanya pada Suwarto dan mencari gantinya. Namun, berkali-kali pula nasehat Marsudi selalu mental dan tidak dihiraukan Ismiyati.

Hingga suatu saat dirinya berujar, “Berapa lama ya Pak, hukuman bagi seorang pembunuh. Aku tidak tahan dengan perasaan ini. Apabila jalan untuk mendapatkan Suwarto dengan cara membunuh Mursiwi, akan aku tempuh cara itu,” ucap Ismiyati dengan menahan cintanya yang terpendam.

Tak berselang lama, Mursiwi ditemukan tertabrak kereta api. Sontak, warga daerah pinggiran rel tersebut menjadi gaduh. Bahkan, kecurigaan masyarakat langsung mengarah kepada Ismiati karena mereka tahu bahwa Ismiyati sangat mencintai Suwarto.

Begitu halnya dengan Marsudi. Meski Ismiyati telah bersumpah bahwa bukan dia pelakunya, namun Marsudi tetap berkeras bahwa anaknya itu merupakan dalang pelaku pembunuhan Mursiwi. Sebab beberapa hari sebelum kematiannya, Marsudi mendengar jelas bahwa Ismiyati ingin membunuh Mursiwi.

Hari pun berganti. Kehidupan Suwarto menjadi kacau. Mursiwi, istri yang dinikahinya 3 tahun lalu itu, begitu lekat bayangannya di kepalanya. Tiada hari, kecuali dihabiskan dengan tertegun dan melamun membayangkan istrinya itu. Hingga suatu hari dirinya bersumpah untuk mencari siapa pembunuh istrinya itu.

Melihat hal itu, Ismiyati pun menjadi kasihan pada Suwarto. Akhirnya dengan membulatkan tekatnya, ia mencurahkan segenap isi hati dan perasaannya. Namun, hal itu tidak membuat Suwarto luruh. Dirinya hanya menganggap Ismiyati hanyalah sebagai sahabat sejak ia kecil. Hingga akhirnya, karena melihat kondisi Suwarto yang sangat mengenaskan karena ditinggal istrinya itu, Ismiyati mengakui bahwa dirinyalah yang membunuh Mursiwi. Dengan harapan agar Suwarto menjadi puas dapat menemukan pembunuh istrinya dan menjalani kehidupan seperti biasa.

Mendengar pengakuan tersebut, Suwarto menjadi kalap dan hendak melemparkan Ismiyati saat kereta melintas. Namun upaya itu tidak dia lakukan. Ia yakin, bahwa sikap sahabat kecilnya itu tidak seperti yang dikatakannya. Di saat situasi memanas itulah, datang seorang pria bernama Sulaiman yang mengaku bahwa dirinyalah pelaku di balik pembunuhan Mursiwi. Sulaiman kesal karena selama ini telah dipermainkan oleh Mursiwi dan hanya dijanjikan harapan cinta yang palsu.

Itulah sedikit gambaran dari pentas produksi ke-7 Teater Cermin Surakarta berjudul “Senja Dengan Dua Kelelawar” karya Kirdjomulyo di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Solo, Rabu (15/5) malam.

Sutradara pertunjukan, Zainal Huda mengatakan, setting yang diambil dalam pentas tersebut yakni pada tahun 1970-an. Dimana pada masa itu, sebuah cinta dimaknai dengan murni dan mau berkorban untuk orang yang dicintainya. Demi kebahagiannya dan masa depannya. Namun, dijaman sekarang ini, arti cinta sudah bergeser. Anak muda sekarang hanya menilai cinta dari hubungan fisik tanpa memperhatikan estetik dan nilai cinta yang lebih mendalam.

“Saya prihatin dengan keadaan sekarang ini yang hanya memaknai cinta sebatas hubungan fisik tanpa ada unsur perasaan di dalamnya,” katanya.

Berita Terkait

Komentar Anda

Tinggalkan Pesan

*

KEMBALI KE ATAS