Sekaten, Roda Ekonomi Kaum Marjinal
Solo – Geliat ekonomi orang-orang urban begitu terasa ketika kita menginjakkan kaki di tanah lapang Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta. Rumput yang sempat menghijau sepanjang tahun, kini tak mampu lagi menyejukkan pandangan mata, lantaran di atasnya disesaki para pedagang yang mencoba mengais rupiah secara musiman.
Sekaten, tradisi Keraton Kasunanan menyambut peringatan Maulid Nabi, saat ini bukan lagi sekedar ritual keagamaan. Syiar Islam yang kala itu menjadi ’roh’ dalam tradisi tersebut, kini telah bergeser ke motif ekonomi. Aneka transaksi barang dan jasa telah menggerakkan roda ekonomi kaum marjinal, baik masyarakat lokal maupun pedagang urban.
“Dari sisi ekonomi, Sekaten berdampak luar biasa bagi pemerintah Kota Surakarta karena memberi pemasukan bagi PAD, khususnya dari pajak dan retribusi,“ tutur Ketua Panitia Sekaten, Satriyo Hadinagoro, saat ditemui wartawan, di Sekretariat Sekaten, Sabtu (12/2). Ia menguraikan, tradisi Sekaten selain membangkitkan laju bisnis pedagang, juga menumbuhkan perekonomian masyarakat di sekitar keraton. Ekonomi masyarakat turut menggeliat lantaran sejumlah pedagang memanfaatkan jasa penginapan ataupun laundry.
Tidak hanya itu, dikatakan Satriyo, masyarakat setempat juga berkesempatan mendulang rupiah dari jasa perparkiran, menjajakan makanan maupun sebagai penjaga stand. Animo pedagangpun dari tahun ke tahun tidak pernah surut demi ngalap berkah Sekaten. Pihaknya menyebutkan, saat ini jumlah pedagang yang menempati alun-alun sebanyak 325 orang, sementara di luar alun-alun terdapat 70 pedagang. Adapun yang berada di dalam pagelaran sebanyak 32 pedagang.
Berkah Sekaten begitu dirasakan Danu Agus Romansyah. Penjaga parkir sepeda motor yang menempati halaman pagelaran tersebut turut mencicipi keramaian Sekaten. Dari menjaga sepeda motor saja, setidaknya ia dapat mengantongi uang senilai Rp 30 ribu perhari. Sementara dalam keseharian pria berusia 30 tahun tersebut, uang Rp 30 ribu jarang singgah di kantongnya, pasalnya ia hanya sebagai pekerja serabutan.
Demikian pula Muhari, pedagang celengan dari tanah liat ini tak pernah melewatkan tradisi Sekaten. Baginya, tradisi masyarakat Surakarta tersebut sangat istimewa untuk selalu diikuti. Bukan hanya lantaran motif ekonomi saja yang menggerakkan pria usia 70 tahun ini untuk datang ke Sekaten, namun niat untuk ngalap berkah juga mendorongnya berjualan barang dagangan khas Sekaten tersebut. “Sekaten selain untuk nafkah juga untuk ngalap berkah,“ akunya.
Berita Terkait
Berita Terkini
- 30 Personel Siaga di Keraton Solo
- Dihalang-halangi, Hangabehi Lapor P...
- Hangabehi dan Tedjowulan Masuk Sasa...
- Mbah Liem Wafat, Dimakamkan Malam J...
- Ini Dia, Guru dan Kepala Sekolah Be...
- Mau Masuk Keraton, Hangabehi –...
- Sopir Ngantuk, Truk Tronton Nggolin...
- Hangabehi dan Tedjowulan Kompak Ket...
- Komik Jepang dan Korea Digemari ABG...
- Pasoepati Akan Ngluruk ke Cilacap
- Mengenang 6 Tahun Gempa di Monumen ...
- Anak SD Rame-rame Tolak Lady Gaga
- Ditabrak Truk, Bus Serba Mulya Nyun...
- DPU Solo Bentuk Satgas Khusus Penar...
- Juwangi Jadi Sasaran TMMD
Berita Terpopuler
- Batal Konser, Lady Gaga Jalan-jalan...
- Selama di Jakarta, Jokowi Pilih...
- Kerabat Keraton Tolak Tedjowulan...
- Foto Rekonsiliasi Dua Raja Beredar
- Aneh, Ular Piton Ini Kerap Menangis...
- KGPH Puger Ambil Alih Tugas Sinuhun...
- Isi Maklumat Rekonsiliasi Dua Raja...
- Gedung Bertingkat 28 Segera Berdiri...
- Kecelakaan Beruntun di Gembongan


30 Personel Siaga di Keraton Solo
Hangabehi dan Tedjowulan Masuk Sasa...
Hangabehi dan Tedjowulan Kompak Ket...
Inilah Kronologi Penandatanganan Re...
Kerabat Kusumowandowo Ingin Diperte...
Besok, Hangabehi-Tedjowulan Bertemu...