0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Anak Berkebutuhan Khusus Tak Harus Selalu Sekolah di SLB

(dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) offline khusus siswa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) mulai Senin (25/6) di Pusat Layanan Autis (PLA), Solo. PPDB ditandai wawancara dan assesmen peserta didik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)/Taman Kanak-Kanak (TK), diiikuti 21 anak.

“Wawancara dan assesmen dilakukan untuk bisa mengetahui kemampuan peserta didik. Sisi kekurangannya apa, mampu belajar bersama anak normal atau tidak. Kalau hanya dilihat kasat mata, anak dengan tuna daksa mungkin tidak punya anggota tubuh lengkap. Tapi ternyata kondisi IQ-nya normal. Nah, kasus seperti ini anak tersebut bisa masuk sekolah inklusi disesuaikan dengan layanannya,” jelas Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta, Wahyono kepada wartawan, di Solo, Senin (25/6).

Menurut Wahyono, assesmen yang dilakukan bertujuan mengidentifikasi peserta didik. Berupa tes psikologi, tes IQ, dan beberapa terapan yang diujikan oleh tim assesmen. Tim assesmen seluruhnya dari pihak PLA.

Wahyono menjelaskan wawancara dan assesmen tidak hanya untuk peserta didik, namun juga untuk orang tua. Tim assemen akan mendalami masing-masing peserta didik sehingga hasilnya ditemukan layanan yang sesuai dan sekolah yang tepat.

“Hasil assesmen akan disampaikan juga sekaligus memberikan pengarahan pada sekolah penerima. Sekolah yang sesuai dengan hasil assesmen anak akan diberitahu jenis layanan apa yang dibutuhkan masing-masing anak,” ujarnya.

Menurut Wahyono, peserta didik ABK tidak selalu harus bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Inilah tujuan pelaksanaan assesmen, memberikan layanan yang tepat bagi peserta didik ABK dengan mengarahkan ke sekolah inklusi yang sesuai kebutuhannya.

“Misalnya, ada anak tuna netra. Tapi posisi IQ-nya sama dengan anak normal. Anak ini bisa sekolah di sekolah inklusi yang sesuai dengan kebutuhannya. Jadi bukan berarti anak ini sekolah di SLB karena kekurangannya,” jelasnnya.

Namun Wahyono mengaku tidak menutup kemungkinan, setelah assesmen dilakukan, peserta didik diarahkan bersekolah ke SLB. Sebab, hasil assesmen menunjukkan anak tersebut tidak mampu mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) bersama anak normal. meskipun berada di sekolah inklusi.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge