0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Beras Murah Kurang Diminati

(timlo.net/raymond)

Karanganyar — Masyarakat tak begitu antusias membeli beras di pasar murah yang ditawarkan Pemkab Karanganyar di Desa Nangsri, Kebakkramat dan Desa Genengan, Jumantono, Rabu (23/5). Penyebabnya, lumbung padinya masih penuh.

“Di Desa Genengan penjualan beras kurang bagus. Dari 1 ton, hanya laku 580 kilogram. Sedangkan di Desa Nangsri, hanya 480 kilogram saja dari yang ditawarkan 1 ton,” kata Kasubbag Perekonomian Bagian Perekonomian Setda Pemkab Karanganyar Deasy Pramudiasty kepada Timlo.net di kantor Desa Nangsri, Kebakkramat.

Kondisi ini sama saat pasar murah Ramadan tahun lalu, dimana stok jenis sembako itu di tiga kecamatan utuh alias tak dijamah. Padahal kualitasnya tak jelek.

“Itu beras kualitas medium namun dipilih terbaik. Di pasaran, harganya Rp 10.200 perkilo. Ini hanya ditawarkan Rp 8.000 saja,” kata Deasy.

Ternyata penyebabnya stok beras hasil panen masih tersedia di lumbung rumah tangga. Penting diketahui, mayoritas penduduk Karanganyar adalah petani.

“Di Genengan ternyata ada arisan beras. Mereka yang kebanyakan petani, punya lumbung sendiri di rumah,” katanya.

Pada tiap penyelenggaraan pasar murah, pihaknya menyiapkan 800 kilo gula pasir, 1 ton beras, 15 ball teh, 20 dus sirup, 30 dus mi instan, dan 30 dus minyak goreng.

Di Nangsri hanya terjual 500 kilo gula pasir, 420 kilo beras, 5 dus minyak goreng, 12 dus teh. Sedangkan mi instan ludes.

“Sebenarnya sudah diinformasikan jauh-jauh hari adanya pasar murah ini,” katanya.

Salah satu warga Nangsri, Nunuk (65) baru kalinpertama belanja di pasar murah Pemkab. Biasanya ia belanja di pasar swalayan.

“Ini beli minyak, gula, sirup, mi instan dan teh. Segaja beli berasnya di selepan, bukan di sini. Tahu ada pasar murah karena disiarkan lewat pengeras suara masjid,” katanya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge