0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Ruangan Gaduh, Juru Bahasa Isyarat Bingung

Juru bahasa isyarat dalam debat publik cabup cawabup karanganyar, Biasafil Setya Nugraha. (timlo.net/raymond)

Karanganyar — Keberadaan juru bahasa isyarat dalam debat publik cabup cawabup Karanganyar penting untuk menyampaikan informasi ke penyandang tuna rungu-wicara. Sayangnya, sang juru bahasa isyarat sulit menangkap penyampaian paslon bupati wakil bupati maupun pemandu acara akibat gaduhnya ruang rapat paripurna DPRD.

“Di sini tidak kondusif,” kata juru bahasa isyarat, Biasafil Setya Nugraha kepada timlo.net, Senin (21/5).

Setya, panggilannya, bukan pertama kali dipercaya menjadi juru bahasa isyarat saat siaran langsung debat pemilu. Sebelumnya, ia diminta KPU menyampaikan isi debat ke penyandang disabilitas saat Pilbup Kudus, Pilgub Jawa Tengah dan sekarang di Pilbup Karanganyar. Dari semuanya itu, pengalaman di Karanganyar paling tidak mengenakkan.

“Biasanya, saya disediakan ruangan tersendiri. Tidak di satu ruangan bersama. Ini panitianya paham apa enggak ya kalau saya butuh konsentrasi tinggi untuk menangkap suara?” keluhnya.

Pantauan Timlo.net, Setya berulangki terdiam dan menurunkan tangannya karena pendengarannya tak mampu menangkap dengan jelas suara pembawa acara maupun para paslon. Gaduh para suporter mendominasi suara di ruangan itu. Ia sendiri duduk di paling belakang menempel tembok sebelah pintu ruang rapat paripurna. Di sana ia bersama kameramen dan rekan sesama profesi yang bertugas menghalau orang seliweran lewat di area yang seharusnya steril itu.

“Itu tadi apa yang diomongin enggak jelas. Ada loudspeeker di dekat saya, tapi tetap saja suara gaduh orang-orang yang kedengeran,” katanya.

Ia memilih tidak mengenakan headset katena itu tidak juga membantunya mendengar lebih jelas. Justru menurutnya, penggunaan alat itu membuyarkan konsentrasi.

Persoalan tak berhenti di situ. Setya menyadari panitia memasang kain warna hitam di belakangnya. Padahal kemeja yang dipakainya berwarna sama. Penting diketahui, efek penggunaan latar belakang berwarna sama dengan warna obyek akan menimbulkan efek menghilangkannya pada hasil sorotan kamera video.

“Untung saya menyadari. Lalu bluescreen ditutup kain warna biru,” katanya.

Dalam teknik penyampaiannya, Setya tidak menerjemahkan kata per kata ke bahasa isyarat. Namun sesuai pemahaman atau asalkan tidak membingungkan audiens-nya.

“Bagaimana kita memindah muatan sama dari kata tutur ke isyarat,” katanya.

Sayangnya, ia merasa gagal melakukan itu di segmen adu argumen antarcawabup.

“Jawabannya kok belibet (tidak beraturan) ya. Saya jadi ikut-ikutan belibet,” ucapnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge