0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Menertawakan Ayam Ketawa, Ha, Ha…

Ayam ketawa di arena CFD Jl Slamet Riyadi Solo (dok.timlo.net/eddy)

Solo — Ayam yang dijual dua pedagang ini bukan sembarang ayam. Lantaran ayam yang dijualnya bisa ‘tertawa’.  Jangan heran bila pejalan kaki di area CFD (car free day) Jl Slamet Riyadi Solo, tepatnya depan Museum Ronggowarsito tersebut, bertanya-tanya. Bagaimana mungkin ayam bisa tertawa?

Ayam ketawa, sebenarnya hanya istilah yang digunakan para pedagang. Entah asal-muasal sebutan ayam bisa ketawa tak ada yang tahu. Demikian juga Agus (36), pedagang asal Semanggi, Solo.

“Saya tidak tahu asal sebutan ayam ketawa. Padahal ‘kluruk’ ayam ini dengan ayam jago lain sama. Bedanya, kalau ayam ini ‘kluruk’ setiap saat, sak karepe dewe,” ujar Agus, saat ditemui di CFD, Minggu lalu.

Menurut Agus, omzet penjualan di CFD selama ini lumayan menguntungkan, tetapi tidak terjadi transaksi di tempat. Pasalnya masih banyak calon pembeli belum mengetahui cara memelihara ayam ketawa. Padahal memelihara ayam, ujar dia, juga sama dengan makani pitiek lain.

“Pakannya juga sama. Jagung lembut atau kalau tidak mau susah beli di toko tempat pakan. Ndak susah, sama kalau makani pitiek lain,” ujar dia.

“Selama hampir satu tahun jualan di sini lumayan banyak yang beli. Tapi di rumah, setelah lihat-lihat di CFD dan denger kluruk ayam,” tambahnya.

Harga seekor ayam jago yang ketawanya ngakak, ujar dia berpromosi, tidak mahal, hanya Rp 250 ribu. Sedang ayam yang masih muda dibandrol Rp 75 ribu hingga Rp 150 ribu. “Harga tergantung kwalitas kluruk. Kalau ketawanya terus-terusan bisa lebih mahal, sampai Rp 250 ribu – Rp 300 ribu,” katanya.

Suatu ketika, cerita Agus, ada calon pembeli akan membayar ayam jago yang ketawanya sudah jadi. Orang itu bertanya supaya ketawa terus-terusan setiap malam gimana. “Kemudian saya jawab saja sekenanya, Si mas aja nerusin ketawa, ha, ha…”

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge