0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Jaksa Sempat Keberatan Saat Fredrich Yunadi Hadirkan Tiga Saksi Ini

Fredrich Yunadi (sumber: youtube)

Timlo.net – – Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK keberatan dengan kehadiran Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PPP periode 2009-2014 Ahmad Yani sebagai ahli dalam sidang kasus dugaan penghalangan penyidikan korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Fredrich Yunadi.

Diketahui, Fredrich menghadirkan Ahmad Yani bersama dengan Ketua Umum Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Fauzi Yusuf Hasibuan dan advokat sekaligus dosen Yongki Fernando.

“Kami keberatan terhadap Ahmad Yani dan saudara Fauzi Yusuf karena keduanya adalah advokat dan satu profesi dengan yang bersangkutan, bisa terjadi ‘conflict of interest’. Kami juga tidak tahu keahlian apa yang akan disampaikan oleh Ahmad Yani dan juga Fauzan Yusuf Hasibuan yang satu organisasi dengan terdakwa,” kata JPU KPK Roy Riady di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jumat (18/5).

Atas keberatan jaksa itu, Fredrich langsung menyanggah.

“Ahmad Yani adalah mantan Anggota DPR Komisi III, selain pakar hukum. Meski sekarang menjadi advokat, tapi beliau penah menjadi mitra kerja KPK selama lima tahun tahun, jadi tahu betul UU KPK. Sedangkan untuk saudara Fauzi beliau Ketua Umum Peradi dan membawahi majelis kehormatan, dewan pengawasan, yang membawahi 50 ribu advokat, sehingga tahu betul imunitas advokat,” kata Fredrich.

Jaksa pun mendebat alasan Fredrich tersebut.

“Terkait Fauzi Hasibuan karena beliau Ketua Peradi dan satu organisasi advokat dan sepengetahuan kami terdakwa masih dalam proses etik di organisasi dan belum selesai, jadi tidak elok untuk didengar kesaksiannya. Kedua bagaimana menilai ahli objektif memberikan keterangan mengenai anggotanya sendiri?” ungkap jaksa Roy.

Ketua majelis hakim Saifudin Zuhri pun berupaya menjadi penegah.

“Untuk Fauzi Hasibuan untuk Ketua Umum Peradi apakah sebaiknya tidak jadi saksi fakta?” tanya hakim Saifudin.

“Kami hadirkan sebagai dosen, resmi ada surat pengantarnya dari Universitas Jayabaya, dan kami keberatan dengan penghinaan penuntut umum tentang etik tadi,” ucap Fredrich dengan nada tinggi.

“Jangan pakai istilah penghinaan itu,” sergah hakim Saifudin.

“Penuntut umum memakai kode etik, ini menyangkut pribadi, dan menyangkut SARA, urusannya berbeda sampai sekarang proses etik belum selesai sehingga saya masih anggota Peradi,” sergah Fredrich.

Hakim pun berdiskusi sekitar tiga menit untuk membuat keputusan.

“Keberatan penuntut umum akan kami catat, jadi akan kami hadirkan sebagai ahli semuanya,” kata hakim Saifudin.

Ahmad Yani pun diperbolehkan memberikan keterangan.

Sumber: Antara

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge