0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Tiga Kasus Mendominasi yang Ditangani Unit PPA Polresta Solo

Ilustrasi KDRT (dok.timlo.net/tya)

Solo — Sebanyak 41 kasus berhasil ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Solo terhitung sejak Januari-April 2018. Kasus yang paling menonjol selama empat bulan terakhir didominasi oleh Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan total 10 kasus.

“Kedua, kasus perkosaan atau persetubuhan dan penganiayaan anak dengan masing-masing total delapan kasus,” terang Kanit PPA Satreskrim Polresta Solo AKP Hastin Mahardjanti kepada Timlo.net, Jumat (18/5) siang.

Menurut Hastin, ada banyak faktor yang melatarbelakangi terjadinya KDRT. Mulai dari faktor ekonomi, perselingkuhan dan masih banyak yang lain.

Seperti salah satu kasus KDRT dengan pemicu dari pesan singkat via Whatsapp (WA) yang dilayangkan oleh seseorang diduga kuat merupakan selingkuhannya. Mendapati pesan mesra itu, salah seorang pasangan melapor ke Unit PPA hingga terjadi perundingan di kantor PPA.

Ada juga, kasus KDRT dengan korban sang suami yang dihantam helm dengan istri. Akibatnya, korban melapor ke Unit PPA untuk mendapat keadilan.

“Setiap kasus yang dilaporkan, akan kami dalami dulu akar permasalahnnya. Jika masih bisa dimediasi antar dua belah pihak, maka akan dilakukan. Jika upaya mediasi yang dilakukan gagal, maka berkas laporan korban akan diberikan yang nantinya akan diproses di Pengadilan Agama (PA),” kata Hastin.

Sedangkan, untuk kasus perkosaan atau persetubuhan juga dibagi menjadi beberapa kasus. Semisal, atas dasar suka sama suka tetapi masih di bawah umur dan orang tua perempuan tidak terima hingga melaporkan kasus tersebut ke pihak berwajib. Ada juga, persetubuhan yang dilakukan oleh seorang pria bersuami terhadap perempuan hingga berbadan dua. Namun, pria tersebut kabur dan tidak memberikan kejelasan nasib.

“Banyak sekali kasusnya untuk perkosaan atau persetubuhan ini. untuk kasus ini menempati urutan kedua sama dengan kasus penganiayaan,” jelas Hastin.

Sedangkan, untuk kasus menonjol ketiga adalah penganiayaan.  Rata-rata, kasus penganiayaan didominasi oleh anak di bawah umur usia sekolah. Pemicunya terkadang masalah sepele. Mulai dari rebutan pacar, saling pandang hingga cuma bersenggolan.

“Kalau untuk ini, juga macam-macam. Tapi biasanya anak sekolah,” tambahnya.

Terkait tingginya kasus yang menyangkut anak dan perempuan, lanjut Hastin, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan.

“Untuk orang tua yang memiliki anak sudah remaja, untuk meningkatkan pengawasan. Jangan sampai salah dalam pergaulan hingga merugikan masa depan mereka. Sedangkan, untuk masalah KDRT, hendaknya diselesaikan secara kekeluargaan terlebih dahulu. Tidak secara langsung melapor kepada pihak berwajib. Tetap laporan kami terima, tapi alangkah baiknya diselesaikan dengan cara baik-baik,” pintanya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge