0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Molornya Penadatanganan PJBL Rugikan Pemkot dan Investor

Beberapa ekor sapi tengah mencari makan diantara gundukan sampah di TPA Putri Cempo, Mojosongo, Jebres, Solo (dok.timlo.net/david fajar)

Solo — Pemerintah Kota Solo mengaku menanggung kerugian karena molornya penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo. Konstruksi PLTSa Putri Cempo yang sedianya dimulai kuartal kedua tahun ini mundur karena PJBL tak kunjung terbit.

“Kita rugi karena sampah di Putri Cempo tidak bisa segera diolah. Investor juga rugi karena investasinya mandek,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sri Wardhani Poerbowidjojo, Kamis (17/5).

Menurut wanita yang akrab disapa Dhani itu, kapasitas Putri Cempo terus berkurang karena sampah yang ditampung terus bertambah setiap hari. Seharusnya sampah tersebut bisa diolah menjadi listrik paling lambat pertengahan 2019 mendatang. Molornya penandatanganan PJBL tersebut otomatis mengundur target tersebut menjadi akhir 2019 atau bahkan awal 2020.

Di lain pihak, Direktur Utama PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP) selaku investor PLTSa Putri Cempo, Elan Syuherlan mengatakan konstruksi PLTSa tak bisa dimulai sebelum PJBL ditandatangani. Perjanjian tersebut rencananya diajukan sebagai jaminan kepada bank untuk mengakses modal pembangunan PLTSa.

“Mestinya kita sudah bisa mulai konstruksi awal kuartal kedua. Karena PJBL belum dintadatangani kita tidak bisa mulai,” kata dia.

Saat ditanya kerugian yang ditanggung akibat molornya proses pembangunan tersebut, Elan enggan menyebutkan angka pasti.

“Yang jelas kita berharap segera bisa dimulai lah,” kata dia.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge