0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Mau Dibangun Apartemen, RS Kadipolo Ternyata BCB

Bekas RS Kadipolo, Panularan, Laweyan, Solo (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Bekas Rumah Sakit Kadipolo, Panularan, Laweyan, Solo rencananya bakal dibangun apartemen dengan nama Radjiman Residence oleh PT Sekar Wijaya. Akan tetapi, pembangungan yang dilakukan terganjal dengan status bangunan yang dinyatakan Benda Cagar Budaya (BCB) oleh pemerintah.

“Saya ditunjuk, kemudian menyusun berkas perizinan untuk disampaikan ke pihak terkait. Rencananya, lahan bekas RS Kadipolo itu akan digunakan untuk pembangunan Club House,” terang konsultan perizinan PT Sekar Wijaya, Bambang Ary Pradotonagoro kepada wartawan, Rabu (16/5) siang.

Bambang mengungkapkan, saat ditunjuk menjadi konsultan perizinan sebenarnya sudah tahu di tanah eks RS Kadipolo berstatus sebagai BCB. Kemudian untuk memastikan adanya status BCB, pihaknya konsultasi ke Dinas Tata Ruang Kota (DTRK), yang kini Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Solo tanggal 22 Mei 2017.

“Saya juga melakukan konsultasi dengan BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Provinsi Jateng dengan mengirim surat resmi tanggal 5 Juni 2017,” katanya.

Hasilnya, dari DTRK dikeluarkan surat salinan berupa SK Wali Kota Solo Nomor 649/1-R/1/2013 Pengganti SK Wali Kota Surakarta Nomor 646/116/1/1997 tentang Benda Cagar Budaya (BCB) di Solo.  Sementara hasil konsultasi di BPCB Provinsi Jateng mengeluarkan surat dari Kemendikbud Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng Nomor 1999/E19/KB/2017 yang menyatakan bahwa lokasi tersebut merupakan BCB.

“Keluarnya dua surat tersebut memperkuat adanya status BCB di tanah eks RS Kadipolo, PT Sekar Wijaya tidak bisa melanjutkan  pengurusan perizinan berupa IPR (Izin Pemanfaatan Ruang) dan IMB,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dia sudah menyampaikan hasil konsultasi tersebut kepada PT Sekar Wijaya dan putra Presiden Soeharto, Sigit Soeharto sebagai pemilik sertifikat tanah seluas 22.550 meter persegi. Selanjutnya, PT Sekar Wijaaya membatalkan jual beli tanah itu dan meminta kepada Sigit  mengembalikan uang muka pembelian tanah senilai Rp 21,5 miliar.

Namun, sampai sekarang uang belum dikembalikan Sigit Soeharto hingga melakukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri (PN) Solo.

“Kami membantah adanya pernyataan dari Kelurahan Panularan kalau IMB sudah jadi, PT Sekar Wijaya belum sampai mengajukan IMB karena terbentur adanya status BCB,” tegas Bambang.

Terpisah, Ketua Tim Kuasa hukum PT Sekar Wijaya, Khairil Poloan, mengatakan, PT Sekar Wijaya belum menerima pengembalian uang muka dari Sigit Soeharto sampai saat ini.

Tuntutan PT Sekar Wijaya sangat sederhana, mengembalikan uang muka dan gugatan perdata di PN Solo dicabut.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge