0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Ganjar Nyadran di Makam Kyai Kharismatik Purbalingga

Ganjar Pranowo dan keluarga nyadran di Purbalingga (dok.timlo.net/ist)

Timlo.net — Calon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pulang kampung menjelang bulan suci Ramadan tiba. Sebagaimana masyarakat lainnya, nyadran di makam leluhur telah menjadi tradisi tahunan di keluarga besar suami Siti Atikoh tersebut, khususnya di makam KH Hisyam A Karim.

Bersama keluarga besar, Ganjar Pranowo berziarah ke makam KH. Hisyam A Karim. Pendiri Pondok Pesantren Sukawarah Roudlotus Sholikhin, Kalijaran, Karanganyar Purbalingga itu tak lain adalah kakek dari istri Ganjar, Siti Atikoh Supriyanti.
“Kita mendoakan keluarga, yang sudah menjadi tradisi setiap tahun di keluarga saya untuk mendoakan orangtua yang sudah meninggal. Dan ini pesan buat yang masih hidup, bahwa kita nanti akan mati,” kata Ganjar, Rabu (16/5).
Terlihat seluruh keluarga besar Ganjar Pranowo dan Siti Atikoh dari Purbalingga berduyun-duyun masuk kompleks pondok yang tidak asing di kalangan warga Banyumasan tersebut. Setelah saling sapa, mereka kemudian membersihkan makam para leluhur yang tepat berada di belakang pondok.
“Sehingga tali silaturrahim selalu terjalin, baik yang ada di Kutoarjo maupun keluarga di Purbalingga. Seperti yang di pondok ini. Kebetulan simbah bapak mertua, saudara-saudara, keluarga yang sudah meninggal kumpul di makam pondok ini. Sehingga ini kesempatan bersilaturrahim dengan seluruh saudara, ini pak lek saya yang mengasuh pondok ini,” katanya.
Tentang Mbah Hisyam, Ganjar menilai bahwa simbah dari istrinya tersebut sangat alim dan kharismatik. Meskipun selama ini dia tidak pernah bertemu secara langsung. “Tapi jika kita ketemu warga di sekitar Banyumasan, mereka bercerita ketika saya bilang ‘saya putu mantu Mbah Hisyam’ mereka terus bilang ‘waaah. Cerita tentang sosok itu saya dengar dari masyarakat dan dari alumni pondok,” katanya.
Bahkan Ganjar mengaku pernah bertemu dengan santri KH Hisyam yang saat ini berada di Arab Saudi. Memang, kealiman KH Hisyam masyhur di kalangan kiai nusantara sehingga banyak yang nyantri di Kalijaran itu. “Betapa cara mereka menghormati Mbah itu sangat luar biasa. Saya membayangkan betapa kharismanya mbah Hisyam sangat luar biasa,” katanya.
Kekaguman Ganjar pada KH Hisyam tidak berhenti di situ, menurut cerita yang dia dengar dari istrinya, bahkan KH Hisyam menunaikan ibadah haji sampai tujuh kali. “Itu zaman dulu. Dengan kondisi pondok pesantren yang sederhana sekali, tapi kekuatan dari masyarakat dan santri dan siapapun yang menghormati, sampai-sampai bisa berhaji tujuh kali,” tandasnya.
KH Hisyam Abdul Karim merupakan seorang ulama yang terpandang di Purbalingga. Disamping ia adalah tokoh ulama yang ikut berjuang melawan penjajah, yang lahir pada 8 Agustus 1909 dengan nama kecil Qosim. Ayah beliau bernama ‘Abdul Kariem dari Bau Desa Kalijaran dan Guru Rodad.
Semasa hidupnya, beliau berguru kepada Kyai Dahlan di desa Kali wangi Mrébét. Kemudian di Pondok Leler Banyumas, beliau berguru kepada Kyai Zuhdi, dan di Pondok Jampes Kediri berguru kepada Kyai Dahlan. Secara khusus, dalam bidang qiroatul Qur’an, beliau berguru kepada Kyai Yusuf Buntet Cirebon, dan Kyai Nuh Pager Aji Cilongok. Dalam bidang Thoriqoh, beliau berguru kepada Kyai Rifa’i Sokaraja. Beliau menikah pada tahun 1927 dengan seorang gadis bernama Rumiyah putri Carik desa Kalijaran.
Dengan restu sang guru, Syekh Dahlan Ihsan, KH Hisyam kemudian mendirikan Pondok Pesantren Sukawarah di Pedukuhan Sokawera, Desa Kalijaran, Karanganyar, Purbalingga. Pesantren Sukawarah Kalijaran yang diasuh Kiai Hisyam, ketika itu (pada masa perang kemerdekaan) menjadi semacam tempat pengkaderan para pejuang. Selain mengaji sebagian dari santri juga dibekali ilmu-ilmu lain seperti baris-berbaris, belajar huruf morse, dan juga belajar pertolongan pertama dalam kecelakaan. Mereka dilatih oleh kader pemuda Ansor setempat.
Melihat catatan sejarah panjang KH Hisyam dan pondok pesantren tersebut, ganjar berharap kebesaran Ponpes Sukawarah Roudlotus Sholikhin tersebut semakin dirasa manfaatnya oleh masyarakat, khususnya yang berada di daerah Banyumasan dan sekitranya.
“Pondok pesantren ini bisa kembali mengulang kejayaan Mbah Hisyam saat mengasuh. Banyak santri, banyak yang ngaji di sini. Dan tentu karena saya bagian dari keluarga sini, kita bantu mendorong kita ajak untuk berhubungan dengan siapapun agar bisa inline seperti dalam program deradikalisasi dan pembangunan karakter. Nah sekarang keluarga dan masyarakat bertemu dan berkumpul, alhamdulillah itu bangunan sedang proses,” tandasnya. (*)
Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge