0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Ini Ulasan Para Kritikus Film Terhadap “Deadpool 2”

Tim X-Force. (polygon.com)

Timlo.net—Sepertinya si tentara bayaran dengan mulut besar, Deadpool berhasil memukau para kritikus film. Paling tidak kritikus dari Indiewire, Uproxx dan Gizmodo beranggapan jika sekuel film itu berhasil mengungguli film pertama. Terutama dalam hal melanggar pakem film pahlawan super dan kemampuan mengoplos komedi yang tajam dengan aksi yang dinamis.

Beberapa kritikus yang lain tidak memuji “Deadpool 2” tapi mengkritik beberapa hal. Mereka merasa jika ada stereotip etnis yang dialami beberapa karakter pendukung. Tapi secara keseluruhan, para kritikus film memuji film ini.

John DeFore dari The Hollywood Reporter beranggapan jika sekuel ini sama lucunya dengan film pertama. Bahkan mungkin lebih menyegarkan, mengingat pahlawan bermulut besar itu sudah memasuki tahun kedua dalam karirnya. Sekalipun ada banyak aksi, tapi film ini dianggap bisa menyeimbangkannya dengan pengembangan karakter. “Dengan ketidaksopanan Reynold yang karismatik, film ini bergerak dari kekerasan yang berdarah ke komedi yang cabul dan kembali ke awal dengan lincah, kadang-kadang memberikan ruang supaya suasana menjadi hangat dan mengharukan,” tulis John.

John menambahkan film ini juga berhasil mengisahkan transisi Deadpool sebagai pemain tunggal menjadi anggota tim X-Force. Dia juga menyarankan penonton untuk menunggu hingga credit roll selesai. “Duduk hingga film benar-benar selesai layak dilakukan,” tulisnya.

Sementara Kate Erbland dari IndieWire beranggapan jika “Deadpool 2” berhasil memenuhi janji pada film pertama. Tapi film ini juga memiliki masalahnya sendiri. Bagian awal film dianggapnya terlalu hingar bingar, dengan kecepatan yang tidak seimbang dan loncat dari satu lokasi ke lokasi lain.

Tapi saat penjahat Cable (Josh Brolin) dan para pahlawan mutan lainnya muncul, terutama Domino (Zazie Beetz), film mulai terarah. Kate menerangkan jika ada banyak cameo bermunculan setelah itu. Kekerasan yang mendominasi film pertama, menurutnya menjadi punya tujuan penting. “Film ini sama kerasnya dengan pendahulunya—pada satu titik, seseorang perlu menghitung berapa banyak tulang yang patah, selama film ini tayang, tebakan saya tiga kali lipat dari yang pertama,” tulis Kate.

Vince Mancini dari Uproxx beranggapan jika film juga melampaui yang pertama. Penulisan naskah mengesankan jika film itu tidak ditulis oleh robot tapi oleh para orang norak. “Deadpool 2 terasa pecah. Terasa seolah para pembuatnya bersenang-senang. Kapan terakhir kali Anda menonton film pahlawan super yang setiap jalan ceritanya tidak menunjukkan sebuah cerita utama yang perlu waktu bertahun-tahun untuk dirilis?” tulis Vince.

Peter Travers dari Rolling Stone memuji film ini. “Film ini melempar semuanya ke arahmu sampai kamu mengangkat tangan tanda menyerah dengan bahagia,” tulisnya. Dia juga memuji kemampuan Ryan memerankan Deadpool. “Peran itu dia mainkan seolah memakai kulit kedua,” pujinya. Emosi-emosi para karakter dalam film juga terkesan alami, sembari mempertahankan nada lucu.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge