0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Regrouping Guru dan Siswa Tidak Efektif

Ketua PGRI Karanganyar, Aris Munandar (dok.timlo.net/raymond)

Karanganyar — Regenerasi tenaga pendidik di Kabupaten Karanganyar terhalang perekrutan CPNS dan merosotnya minat pekerja di bidang itu yang berstatus wiyata bhakti. Metode penataan pekerja juga dianggap bukan solusi.

“Berdasarkan mapping tahun 2017, jumlah purna tuga guru PNS mencapai 980-an orang. Pada tahun ini, jumlahnya bertambah. Tak kurang dari 1.000 orang. Kebanyakan guru SD,” kata Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Karanganyar, Aris Munandar di acara Konferensi Kerja PGRI tahun ketiga masa bakti ke-21 di rumah dinas bupati, Sabtu (12/5).

Jumlah penyandang purna tugas itu belum diganti secara proporsional melalui perekrutan CPNS daerah. Aturan moratorium dan syarat pengadaan yang rumit menghalanginya.

Aris mengatakan, keberadaan guru wiyata bhakti yang dipekerjakan sekolah negeri cukup membantu kebutuhan tenaga pendidik. Namun, kesejahteraan timpang menimbulkan problem baru. Minimnya upah juga menyebkan tidak banyak peminat guru berstatus wiyata bhakti.

Lebih lanjut dikatakannya, regrouping guru dan siswa yang sedianya efektif di kegiatan belajar mengajar (KBM), ternyata bukan solusi mengatasi krisis tenaga pengajar.

Regrouping itu dilakukan ketika sekolah kurang murid dan guru, sehingga KBM digabung. Tetap saja jumlah gurunya sedikit,” katanya.

Ia berharap pada rekrutmen CPNS mendatang, Pemkab memprioritaskan pengadaan tenaga pendidik.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge