0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Denda dan Uang Pengganti Korupsi Belum Lunas, Tugas Kejari Belum Tuntas

Mustamir (batik merah) di kantor Kejari Karanganyar (timlo.net/raymond)

Karanganyar — Usai menjebloskan terpidana kasus dana subsidi Gerakan Nasional Pembangunan Sejuta Rumah (GNPSR), Mustamir Tantowi Jauhari (59) ke Rutan Surakarta, bukan berarti tugas jaksa selesai. Aparat penegak hukum masih memburu pengembalian uang negara serta denda yang menjadi kewajiban terpidana.

“Berdasarkan putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap, selain vonis penjara enam tahun, terpidana wajib mengganti uang negara yang ditilap Rp 639 Juta dan denda Rp 300 juta. Dulu, ia sudah membayar uang pengganti Rp 51 Juta sebelum melarikan diri,” kata Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Karanganyar, Suhartoyo kepada Timlo.net, Selasa (15/5).

Berdasarkan aturan, terpidana harus membayar denda dan uang pengganti itu maksimal satu bulan sejak vonis incraht. Apabila mengemplang, maka negara bisa menyita harta kekayaan miliknya maupun ahli waris. Dalam pelarian terpidana selama 4,5 tahun, penyitaan tidak dapat dilakukan karena aset kekayaan dan keluarganya seakan lenyap. Kini setelah terpidana dipenjara, ia bisa memilih pengembalian uang negara dan denda dibayar kontan atau menjalani hukuman subsider.

“Subsider dua tahun untuk uang pengganti Rp 639 Juta dan subsider enam bulan untuk denda Rp 300 Juta. Tinggal pilih yang mana. Target eksekusi ini secepatnya, karena ia buron sudah lama. Empat tahun lebih!” tandasnya.

Sebagaimana diberitakan, Buron kasus korupsi dana subsidi GNPSR pada 2007 dan 2008, Mustamir Tantowi Jauhari (59) ditangkap di rumahnya di Perumahan Grand Pesona Cilegon, Banten, oleh aparat Kejaksaan Negeri (Kejari) Karanganyar, Sabtu (12/5). Mustamir kabur dari eksekusi setelah divonis bersalah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada 2012.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge