0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Siraman Mas dan Mbak Boyolali Awali Tradisi Padusan

Wakil Bupati Boyolali, Said Hidayat, melakukan siraman terhadap mas mba di Umbul Ngabean, pertanda dibukanya tradisi Padusan (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Prosesi siraman Mas dan Mbak Boyolali di Umbul Ngabean, Komplek Pemandian Tirto Marto, Pengging, Banyudono, mengawali dibukanya tradisi padusan. Tradisi padusan sendiri digelar selama dua hari sebelum Puasa.

Wakil Bupati Boyolali Said Hidayat, mengawali prosesi siraman terhadap Mas dan Mbak Boyolali. Setelah itu diikuti anggota Forkopimda. Usai siraman dilakukan, Mas dan Mbak Boyolali kemudian menuju ke Umbul Ngabean untuk mandi. Prosesi ini sekaligus membuka padusan, dimana masyarakat bisa mandi di Umbul Ngabean.

“Padusan berarti mani, makna sesungguhnya mensucikan diri lahir batin sebelum puasa,” kata Wakil Bupati Said Hidayat, Selasa (15/5).

Dalam kesempatan tersebut, Wabup berharap tradisi padusan yang sudah lama digelar, dimanfaatkan masyarakat untuk membersihkan diri. Wabup juga berharap, padusan bisa mendongkrak pariwisata di Boyolali.

“Tradisi padusan harus bisa mendongkrak wisatawan datang ke Boyolali,” tambahnya.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Boyolali, Wiwis Trisiwi Handayani, mengatakan, tradisi padusan digelar sejak jaman Kerajaan Demak. Sedangkan untuk Umbul Tirto Marto, dulunya sering digunakan keluarga Keraton dan abdi dalem Keraton Surakarta untuk siram atau mandi menjelang bulan puasa.

“Tiap tahun, menjelang puasa kita gelar, sekaligus untuk melestarikan tradisi ini,” tambahnya.

Tradisi padusan di Umbul Tirto Marto, Pengging, terdapat empat pemandian, yaitu Umbul Ngabean, Umbul Nganten, Umbul Dudo dan kolam anak-anak. Tak hanya digelar di Pengging, tradisi ini juga digelar di Tlatar dan Sawit.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge