0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Temuwangi Diresmikan sebagai Desa Budaya

Atraksi kesenian reog di Desa Temuwangi, Pedan, Klaten (foto: Aditya Wijaya)

Klaten – Berbagai atraksi kesenian tradisional memeriahkan deklarasi desa Open Defecation Free (ODF) di Desa Temuwangi, Kecamatan Pedan, Sabtu (12/5). Selain ditetapkan sebagai kawasan bebas dari buang air besar (BAB) sembarangan, Desa Temuwangi juga memproklamasikan diri sebagai desa budaya.

“Baru hari Rabu (9/5) kemarin diverifikasi oleh Dinas Kesehatan Klaten sebagai desa ODF. Ini membuat Temuwangi sebagai desa pertama di Pedan yang menyandang predikat kawasan bebas BAB,” kata Kepala Desa Temuwangi, Marwan Tujiarto.

Dikatakan, butuh komitmen semua elemen untuk mewujudkan Temuwangi sebagai kawasan BAB sembarangan. Pihaknya sudah memulainya sejak menjalankan program bantuan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) pada 2013 silam.

Pasalnya, BAB sembarangan dapat menjadi sumber penyakit dan mencemari lingkungan sekitar.

Selain itu, pihaknya beberapa tahun terakhir juga gencar mendorong warga untuk mengangkat potensi kesenian tradisional sesuai perkembagan zaman. Antara lain, Reog Singa Manggala, Tari Kipas, Jaran Kepang, karawitan hingga grup Drumband Soekarno Hatta.

Bahkan keberadaan salah satu kelompok ketoprak juga telah menghasilkan profit lantaran menyewakan perangkat kostum hingga keperluan panggung pertunjukan.

“Kita tidak akan mewadahi mereka dalam satu wadah, hanya kita subsidi. Sehingga mereka akan berkembang dengan kemampuan sendiri sesuai zamannya. Di sisi lain, kita juga memiliki PAUD Merah Putih dan sedang menyiapkan taman Bhineka Tunggal Ika. Jadi tidak hanya memiliki pola hidup sehat, melainkan juga kuat nasionalisme untuk Indonesia,” kata Marwan.

Peresmian deklarasi desa ODF dan budaya dilakukan langsung oleh Bupati Klaten Sri Mulyani. Dia berpesan agar setiap desa fokus mengerjakan satu bidang kegiatan sebagai prioritas pembangunan desa. Mulyani juga menjanjikan desa bebas BAB akan menerima bantuan keuangan khusus (BKK).

“Nanti kisaran BKK akan disesuaikan dengan kemampuan kami. Karena tujuannya kan untuk mendorong daerah-daerah lain yang belum bebas BAB. Sebab meraih ODF itu sulit sekali,” pesannya.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge