0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Tradisi Megengan, Simbol Wujud Syukur Masyarakat Jawa

Nasi kenduri megengan identik dengan kue apem. Tradisi ini digelar saat menjelang Ramadan (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Menjelang Bulan Suci Ramadan, masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Wonogiri memiliki adat kebiasaan yang sudah turun temurun, yakni ritual Megengan. Megengan sendiri berasal dari kata “megeng” dalam Jawa berarti menahan diri atau berpuasa.

 “Intinya, merupakan salah satu bentuk wujud syukur kepada Tuhan. Sekaligus sarana kirim doa kepada leluhur kami yang sudah tenang dialam baka,” ujar tokoh masyarakat Baturetno, Kartorejo, Sabtu (12/5).

Ritual ini dilakukan dalam setahun dua kali, menjelang Ramadan disebut Megengan Unggah-unggahan, lalu di akhir Rmadan atau menjelang Lebaran, masyarakat menamainya dengan Megengan Dun-dunan.

“Kalau menjelang puasa begini belum bisa menggelar ritual megengan, hati ini seperti punya beban, semacam ada ganjalan atau janji yang belum terbayar,” kata dia.

Biasanya ,dalam ritual Megengan digelar kenduri atau disebut bancakan samiran. Samiran adalah nasi yang diberi lauk pauk lalu dibungkus dengan daun pisang.

 “Ya, kalau kita ada dana lebih, biasanya mengundang tetangga untuk kenduri. Tapi ada juga yang hanya dibungkus lalu dibagi-bagikan kepada tetangga,” jelasnya.

Menurut dia, tradisi megengan ini belum lengkap tanpa adanya kue apem. Kue tersebut disajikan setelah menyantap nasi kenduri atau sebelumnya. Kata apem  jika ditelusuri berasal dari bahasa Arab, yakni afuan atau afuwwun yang artinya ampunan. Kartorejo menambahkan, dalam masyarakat Jawa, kue apem diyakini sudah ada sejak jaman Sunan Kali Jaga dalam syiar agama Islam.

“Masyarakat Jawa dulu, itu punya kebiasaan mengutarakan suatu dalam bentuk sanepan (peribahasa). Jadi kue apem ini juga simbol syukur atas rejeki yang telah dilimpahkan Tuhan kepada umatnya,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge