0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Dituntut 4 Bulan Penjara, Terdakwa Penipuan Rp 2,750 Miliar Tak Terima

Terdakwa kasus penipuan dan penggelapan senilai Rp 2,750 miliar saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kota Solo (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Solo mempertanyakan terkait keberatan terdakwa dalam sidang pledoi kasus penipuan dan penggelapan senilai Rp2,750 miliar di Pengadilan Negeri (PN) Kota Solo, Senin (7/5) siang. Kuasa hukum dari terdakwa, Alex Abdul Rahman (54) hanya memaparkan runtutan kronologi terkait kasus yang dihadapi kliennya tersebut.

“Dalam berkas pledoi ini tidak diikutsertakan, keberatan dari terdakwa apa? Kami sebagai JPU jadi bingung juga,” terang JPU, Didik Aryanto kepada wartawan.

Sebelumnya, JPU dalam kasus tersebut hanya menuntut terdakwa kasus penipuan dan penggelapan senilai Rp 2,750 miliar dengan hukuman empat bulan penjara. Hukuman tersebut tergolong ringan, mengingat jumlah kerugian yang dialami korban mencapai miliaran rupiah.

Pantauan Timlo.net, kuasa hokum terdakwa bersikukuh bahwa kliennya tidak bersalah. Uang senilai Rp 2,750 miliar itu digunakan sebagai ongkos akomodasi pencairan investasi Berkat Bumi Citra (BBC) di Jakarta yang dikelola Viktor.

Tak cuma itu, kuasa hokum terdakwa menghendaki jika kasus tersebut murni masalah perdata dan bukan pidana. Sehingga, pihaknya mengharapkan agar kliennya dibebaskan dari segala tuntutan dan dipulihkan nama baiknya.

“Kami memohon kepada majelis hakim agar membebaskan terdakwa dari segala tuntutan sekaligus memulihkan nama baiknya,” kata kuasa hukum dihadapan majelis hakim.

Usai mengikuti jalannya sidang tersebut, pihak pelapor mengaku jika permintaan kuasa hokum terdakwa tidak masuk akal. Padahal, tuntutan JPU terhadap terdakwa sudah tergolong sangat ringan.

“Dia (terdakwa) bawa duit Rp2,750 miliar cuma dituntut empat bulan penjara. Harusnya di atas satu tahun lebih. Masak tuntutannya cuma kayak ‘maling ayam’. Itu miliaran rupiah lho, tidak cuma ratusan ribu. Sudah dituntut segitu, masih minta bebas. Apalagi dipulihkan nama baiknya,” tandas pelapor, Michiko Soetantyo kepada wartawan.

Rencananya, sidang kasus tersebut akan kembali digelar pada Senin (14/5) mendatang dengan agenda tetap mendengarkan pledoi dari terdakwa.

Proses persidangan kasus ini berlangsung sejak 16 April 2018 lalu. Kasus ini bermula saat salah satu keluarga perusahaan rokok PT Djitoe, Michiko Soetantyo dan keluarga menginvestasikan uangnya Rp 19,5 miliar ke perusahaan investasi BBC di Jakarta yang dikelola Viktor.

Seiring berjalannya waktu, investasi di perusahanan BBC tiba-tiba macet. Sejak ada masalah tersebut, Michiko dan keluarganya meminta bantuan kepada Alex Abdul Rahman untuk mengurus sahamnya yang dinvestasikan di BBC.

Dalam mengurus berbagai permasalahan yang timbul, Michiko bersama keluarga harus mengeluarkan dana Rp 8,750 miliar agar semua permasalahan dapat diselesaikan oleh Alex.
Namun dalam mengurus pengembalian saham milik Michiko beserta keluarganya, alokasi dana yang dikeluarkan Alex berkisar Rp 4 miliar. Sisa dana yang masih Rp 4,750 miliar akhirnya terungkap setelah orang kepercayaan BBC, Laksa (42) menelusuri pemilik saham yang dibantu Alex untuk mengurusnya.

Begitu diketahui ada selisih sisa dana untuk mengurus penarikan saham, Alex akhirnya mengembalikan uang Rp 2 miliar kepada Michiko. Adapun selisih uang Rp 2,750 miliar yang masih ditangan Alex rupanya tidak dikembalikan kepada Michiko. Lantaran masih ada uang yang digelapkan oleh Alex, Michiko akhirnya melaporkan kasus ini ke Polresta Solo.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge